"Pukul 7"
Pukul 7 di pagi hari.
Tya sudah berada di depan pintu kost-ku saat aku baru saja menggosok mata. Wajahnya yang imut, membuat hari ini terasa tidak ingin cepat berlalu. Sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi, kami ditugaskan untuk mempresentasikan apapun yang berkaitan dengan Indikator pembelajaran bersama para direktur dari berbagai perusahaan Internasional. Dan, di sinilah kami sekarang. Tahap paling angker menurut para senior, bahkan satpam sekalipun.
Gaya hubungan kami memang berbeda dengan pasangan pada umumnya. Hura-hura, menghabiskan uang pemberian orang tua sementara mereka lelah peluh keringatnya mencari bank mana lagi yang akan mereka hutangi. Life is easy, kalau susah dijalankan bersama, nanti kita juga akan mendapatkan bahagia juga bersama. Percaya atau tidak, dalam sehari kami hanya menghabiskan waktu untuk beradu argumen konyol. So, untuk pasangan muda, masih enggan berubah?
"Ayo Tam, katanya mau ambil nomor urut pertama supaya punya waktu sama aku? C'mon, Aku aja udah keterima di perusahaan tambang, besok mulai magang. Kalah lagi deh sama perempuan" Celetuk Tya, kalian mungkin tidak akan betah dengan bawelnya.
"Sabar ya, Nyonya Tya Amarum Pratama. Tuanmu sedang ganti baju". Jawabku. Kita tertawa bersama.
----------------
Satu jam sebelum presentasi, dan Alhamdulillah aku mendapat nomor panggil 2. Angka keramat itu terletak setelah satu, atau sebelum tiga. Dan, entah kenapa kami merasa sangat beruntung. Menurut pengalaman Tya, Direktur-direktur itu akan memberi nilai pas-pasan pada urutan terakhir. Faktor kelelahan, dan faktor kesibukan adalah sebab dari akibat.
...Panggilan peserta bernama Pratama, ke ruang ekonomi 1 sekarang...
Baiklah, ini giliranku.
"Assalamualaikum Bapak dan Ibu dosen yang saya hormati, jajaran direktur yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, serta para hadirin yang berbahagia". Aku membuka presentasi.
"Pada kesempatan kali ini, saya akan mempresentasikan materi tentang perkembangan Investasi berbasis Dollar, dan kiat untuk menaikkan mata uang negara kita". Seru ku penuh semangat.
Selama presentasi, aku merasa banyak yang terkesima dan memberikan antusias mereka. Seorang wanita mengenakan blouse putih dan rok hitam seperti sekretaris perusahaan Tambang mengintipku dari jendela. Tya menepati janjinya yang ingin melihatku walau dari balik kaca bertralis abu-abu. Ia tertawa kecil ketika melihat slide akhir yang bertuliskan 'I Love You Mr. Pratama, From Tya Amarum Pratama' dan saat aku dicecar pertanyaan siapa yang menulis tulisan senekad itu. Ya, aku suka dengan intrik wanita ini. She's pretty romantic.
---------------
Pukul 7 Malam di Gandaria City.
Sebagai rasa terima kasihku kepada Tya karena telah mendukungku untuk mengerjakan tahap paling angker, kuundang dia beserta keluarga kami untuk makan bersama di sebuah restoran. Malam ini akan menjadi malam yang sangat bersejarah. Sebuah cincin sengaja ku pesan langsung dari Inggris akan segera melekat di jari manis wanita itu. Aku tidak sabar, bagaimana reaksinya setelah melihat nilai sempurna seorang Pratama dan cincin ini.
"Please Have a Set, Mrs. Tya Amarum Pratama" Kataku setelah kita sampai di restoran. Keluarga kami duduk tepat di samping meja yang sudah ku atur sedemikian rupa dengan manajer restoran.
"Apa-apaan sih kamu, malu aku ada keluarga" Tya menggerutu, aku hanya bisa tersenyum bahagia.
"Ma, Pa, izinkan aku untuk menjadikan Tya mendapat gelar Pratama". Aku mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
"Cukup Pratama" Tya mengelak.
"Ada apa?" Sahutku. Keluarga kami bertanya-tanya.
"Sebelum aku jawab, aku akan berterima kasih kepadamu. Terima kasih atas segala yang telah kamu berikan selama ini, susah senang, gaji hasil kerja kerasmu selama 6 tahun di Tukang Fotocopy depan kampus, dan semuanya. Aku tahu, kamu memang bapak yang ideal. Aku siap lahir batin menjadi nyonya Pratama". Balas Tya, diikuti haru seisi restoran.
Kami pun akan segera menikah dalam waktu dekat ini.
---------------
Pukul 7 Pagi di halte SCBD Sudirman.
Aku duduk manis di halte sebuah pusat perkantoran di SCBD, Jakarta Selatan, dengan menggenggam secangkir teh di tangan kanan dan menggandeng tangan seorang anak kecil yang ku beri nama Nino Omarum Pratama di sebelah kiri. Dia tampak lucu sekarang. Anak ini baru berumur satu tahun dua bulan, masih sangat dini.
Aku menatap ke jalan raya, menunggu seseorang yang sejak lama dirindukan oleh Nino. 15 menit berlalu, namun tak ada tanda-tanda kedatangannya. Sampai akhirnya, seorang wanita memakai blouse berwarna krem dan rok putih menghampiri kami.
"Halo sayang, udah lama nunggunya?"
"Hai mam, iya aku bosan. Ayo kita ke toko mainan" Nino menyahut.
"Ayah mau ikut?" Kata Nino lagi.
"Tidak, nak. Ayah masih ada meeting dulu sama temang-teman ayah. Kamu have fun sama mama ya. Kita ketemu di Starbucks nanti sore. Love you honey" Kataku, lalu mereka pergi.
Aku kembali menatap jalan raya ini.
Sekarang, pukul 7 hanya menjadi cerita pahit. Semenjak lamaran itu dua tahun yang lalu, kehidupan kami berubah. Aku lebih tepatnya. Tya dipanggil oleh Tuhan dalam kecelakaan di sebuah jalan, Jakarta Selatan. Masih segar dalam ingatan ketika mobil kami ditabrak dari belakang oleh sebuah minibus, dan kepalaku mengalami pendarahan. Ku coba untuk menyelamatkan Tya, ternyata aku sudah dievakuasi pada sebuah halte kecil diantara gedung-gedung tinggi. Sebuah Ambulan memisahkan kami, kemudian kami berpisah selamanya. Dan sekarang, aku duduk di tempat yang seharusnya tidak aku ingat lagi.
Nino, buah cintaku, semata-mata bukan hasil dari perkawinanku dengan Tya, melainkan Rani, sahabat kuliah kami yang diwasiatkan Tya untuk menjadi penggantinya sehari sebelum ia meninggal.
Rani menghormatiku, seperti ia menghormati Nino Omarum Pratama, yang sebetulnya tidak ada nama lengkap wanita itu sama sekali. Cincin pernikahanku ini, adalah cincin yang pernah dipakai sebentar oleh nyonya Tya Amarum "Pratama", Alm. Aku bisa membayangkan senyuman perempuan yang telah 10 tahun kukejar, melihat sang suami sudah bahagia dengan dirinya, maksudku dengan wakil dirinya di dunia.
Ya, semua orang akan membenci sesuatu. Aku pun sekarang membenci angka 7.
To Be Continue.......
catatan harian si tam
Tuesday, August 11, 2015
Saturday, May 10, 2014
Firasat terakhir si Manis
Minggu, 25 Februari 2014. Seperti biasa, setelah sholat
shubuh, Iken langsung membuat sarapan untuk kucingnya. Ia memang menyukai
binatang berbulu itu. Baginya, mereka sudah seperti adik sendiri, di mana ia
bisa memanggil kapan saja saat dibutuhkan.
“Menu hari ini, pindang kucing. Hmm, pasti suka.” Gumam Iken
dalam hati.
Setelah semua siap, Iken segera bergegas keluar. Aroma ikan
segar langsung tercium ketika ia melewati dapur. Lima ekor kucing sudah siap
melahap santapan itu. Bulu berwarna coklat dilapisi putih es krim menghiasi
tubuh mereka.
“Ini makanan buat kalian, habiskan ya.” Sahut Iken seraya
meletakkan piring-piring mungil di atas aspal jalan.
06.30. Iken telah selesai berkemas, dan bersiap untuk pergi
ke kampus. Pakaiannya rapih seperti anak pejabat, berwangikan parfum rosemary.
Tak lupa sebelum ia pergi, ia pamit kepada orang tuanya.
“Ma, pa, pergi dulu ya.” Iken berlalu menyalami kedua orang
tuanya
“Iya, hati-hati ya.” Sahut Mama Iken.
Iken pergi ke kampus dengan jalan kaki. Itu dikarenakan
letaknya tak terlalu jauh dari rumah, tepat belok kiri dari komplek. Ketika ia
hendak membuka pagar, tiba-tiba seekor kucing mendekati dirinya, seraya
menjatuhkan dirinya seperti ingin dimanja. Sontak Iken tersenyum, dan berkata,
“Manis, Iken mau ke kampus dulu ya. Permisi”
Kucing itu tetap tidak mau pergi. Digulingkannya badan ke
kanan dan ke kiri untuk mencari perhatian kepada sang majikan, gegas berlari
dan kembali menidurkan dirinya tepat di kaki Iken.
“Manis, udah dong bercandanya. Nanti telat nih.” Iken sudah
mulai emosi.
Sepanjang perjalanan, kucing kuning itu mengikuti Iken
kemanapun ia pergi. Wajahnya yang lugu namun terlihat serius mengisyaratkan
Iken agar tidak pergi.
“Duh, Manis! Balik ke rumah. Nanti kamu tersesat!” Iken
membentak kepada kucing itu, lalu segera menggendongnya menuju ke arah yang
benar.
Sang kucing sejenak terdiam. Namun dirinya tak habis akal,
ia berlari memanjati pohon, dan mengeong lah ia. Iken tak menghiraukan eongan
si Manis itu. Dirinya tetap konsen menuju ke kampus.
Manis, segera berlari kembali menuju Iken. Sontak gadis itu
terkejut, dan membentak,
“kembali!” Iken menendang perut si Manis sekencang ia bisa.
Manis terdiam. Mukanya ditundukkan ke bawah, seperti menahan
sakit. Iken melihat sekilas, lantas pergi meninggalkan kucingnya yang malang. Sekarang,
sudah 500 meter jauhnya Manis meninggalkan wilayah rimbanya.
Sesampainya di kampus, Iken segera membuka buku mata
kuliahnya. Sambil menghitung lembaran demi lembaran kertas yang tanpa jelas
tujuannya. Pikirannya tertuju pada si Manis, kenapa hari ini ia ingin sekali
pemiliknya berada di dekat dirinya, padahal seperti biasa, jika segerombolan
kucing itu telah kenyang, mereka akan membubarkan diri dan melaksanakan dinas
kekucingannya masing-masing.
Pikiran si Manis perlahan menghilang setelah teman-teman
sekelas Iken datang satu per satu. Terutama Layla, sahabat karibnya sejak SMA.
Ia tak sabar, siapa lagi yang akan digosipkannya kali ini.
“Pagi Iken, tumben bawa tas berat banget” Sapa Kayla datar.
“Pagi juga La, iya. Lu tau sendiri kan hari ini mata
kuliahnya siapa? Iya Pak Hendro. Masa iya tangan gua dipukul pake laptop lagi,
gara-gara lks ketinggalan?” Jawab Iken serius.
“Gitu aja dianggap serius, Ken. By the way, pulang kuliah
ada acara gak? Kita nonton yuk. Ada referensi film bagus hari ini, sekalian
cari cogan.” Kayla meledek Iken, yang sampai sekarang belum mau pacaran.
“Boleh deh, gua juga lagi bawa banyak duit.” Iken menanggapi
ajakan Kayla.
Waktu berlalu begitu cepat, sehingga tak terasa sudah menuju
pukul 12.00. Setelah selesai kuliah, kedua gadis itu segera menuju parkiran,
lantas pergi meninggalkan ingupnya dunia kampus. Ketika di perjalanan, Iken
seolah teringat kembali dengan kejadian yang ia alami tadi pagi. Ya, kejadian
si Manis. Tapi segera dilupakannya, karena jika tidak dilupakan, akan menjadi
beban.
“Kita parkir di sini aja ya, tuh bioskopnya.” Sambil menunjuk
salah satu tempat parkir, yang letaknya tak jauh dari pintu masuk mall, tepat
depan bioskop, di lantai empat.
Selama di bioskop, mereka tertawa senang. Tak ada pikiran
kampus, tak ada juga pikiran pr yang menghantui hidup mahasiswi ini. Mereka
tampak menikmati hari itu, tentunya diselingi godaan demi godaan si Kayla
kepada bayak cowok yang mampir di pandangan kedua gadis itu.
“Have fun banget, ya Ken. Tadi ada satu cowok yang pas gua
godain, dia langsung kabur gitu. Lu piker gua setan apa?” Gelutuk Kayla sambil
mengerutkan wajahnya.
“Ia, tadi juga ada cowok yang mandangin gua terus. Jadi
khawatir disantet.” Canda Iken.
Sekaleng soda menemani perjalanan pulang Iken dan Kayla. Tak
lupa, mereka saling tertawa mengingat reaksi kaum adam ketika mereka godai. Tak
terasa sudah sampai di depan gang rumah Iken, sehingga ia lantas berpamitan
pada Kayla.
“Makasih ya La, seneng banget gua hari ini.”
“iya sama-sama, awas kena santet” Tawa kayla.
Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang satu sama lain,
agaknya Iken pulang sangat larut dari biasanya. Ia khawatir orangtuanya akan
mengucinya di depan rumah seperti tahun lalu, maka segeralah diambilnya handphone
dari tas.
“Loh, mama nelpon lima kali tak terjawab, papa juga. Ada
apa?” Iken terlihat cemas. Tubuhnya lesu. Ia segera berlari cepat menuju
rumahnya. Tepat di depan rumah, sebuah darah tampak melingkar abstrak di aspal -tampak
masih segar.- Ia melewati kucing-kucing, yang mukanya agak lebih muram
dibandingkan tadi pagi. Bahkan, Pindang ikan yang diberikan ibu Iken pun tak
dimakan, tetap utuh.
“Ada apa ma?” Tanya Iken cemas.
“Iken darimana? Ibu ingin memberitahukanmu sesuatu,” Jawab
Mama Iken.
“Ya, ceritakan.” Sabar Iken.
“kamu tau manis? Dia baru saja tertabrak mobil pak Ruslan.”
Ibu Iken tertunduk sedih.
“Iya apa? Lalu bagaimana dia sekarang?” Iken semakin
khawatir.
“Pak Ruslan telah baik kepada Manis, dia dipinggirkan ke
tepi jalan, lalu melapor pada Bapak. Sekarang Manis ada di samping ayunan.
Tengoklah, siapa tau dia masih hidup.
Iken segera berlari menuju Manis. Terlihat di samping
ayunan, Manis tergeletak lemas. Darah bercuruan dari balik kepalanya yang
manis. Namun, ia masih terlihat hidup.
“Manis, kamu kenapa? Ayo kita ke dokter hewan.” Iken
menangis. Dibalutkannya si Manis yang telah tergerai lemas dengan kassa,
berharap ada kesempatan untuk melihatnya satu kali lagi.
Di tempat dokter hewan, tepat di seberang jalan, Iken segera
berlari menghadap sang dokter. Tampak pengendara lainnya seakan mengerti
keadaan Iken saat itu ketika ia akan menyebrang. Bahkan warga pun turut
bersimpati pada gadis teledor itu.
“Dokter, tolong kucing saya. Dia baru saja terlindas mobil.”
Sahut Iken menjerit.
“Ya ampun, ayo letakkan di kasur ini.” Dokter menunjuk kasur
di sebelahnya. Tanpa pikir panjang, Iken segera melaksanakan apa perintah
dokter.
Dokter memeriksa satu persatu tubuh Manis dengan perlahan,
takut sesuatu terjadi. Tampak dengan jelas tulang kucing itu sudah menembus
kulitnya, namun jantungnya masih berfungsi, meski tak akan lama.
“Kamu majikan yang baik. Tepat sekali kamu bawa kucing
ini kesini.”
“Apa yang terjadi dokter?” Iken mengelap tangisnya dengan
handuk kecil.
“Kucingmu Nampak sangat bahagia mempunyai majikan seperti
dik Iken. Saya tau, tadi pagi ketika kamu akan pergi ke sekolah, kucing itu
dengan setia menemanimu sampai ujung gapura, tapi kamu malah menendangnya. Mungkin
itu firasat terakhir untukmu, bahwa jangan meninggalkan dirinya untuk yang
terakhir kalinya. Tapi kamu tak menggubris firasat itu. Pergi ke ruang saya
sekarang, dan mintalah maaf kepadanya untuk yang terakhir.”
Iken segera berlari menuju ruang praktek. Ia melihat Manis
untuk sekali lagi terbaring lemah, dan semakin lemah. Lukanya kian menjadi, dan
seketika kasur hitam itu pun berubah menjadi lautan darah.
“Manis, kau masih bisa melihatku? Aku minta maaf karena
telah lalai dalam mengikuti firasatmu. Sampai sampai aku harus menendangmu
dengan keras. Aku tau, itu sakit bagimu. Tapi kamu tak menunjukkan kesakitanmu
dan tetap tersenyum dengan kumismu yang indah. Maafkan aku manis, aku berjanji
akan merawat saudaramu yang lain sama seperti aku merawatmu dengan kasih
sayang. Jikalau kamu mengerti apa yang aku ucapkan, tapi itu nampaknya
mustahil.”
Iken menangis sejadi-jadinya, seakan air matanya akan
dihabiskan saat itu juga. Tak lama berselang, Manis melongok ke Iken, dan
dengan senyumnya yang manis, ia mengeong, Dan itu adalah eongan terakhirnya
sebelum ia menutup mata, dan pergi meninggalkan Iken. Gadis itu tak kuasa
menahan tangis, pada akhirnya ia menyerah dan mundur.
“Kami akan mengurus jasadnya, pergilah pulang Iken. Sering
seringlah menengok kucingmu di sini.
Semenjak saat itu, Iken menjadi lebih sayang dengan
kucingnya. Ia bahkan rela meninggalkan Kayla dengan keglamouran hidupnya, hanya
untuk memberi perhatian penuh kepada sang kucing. Semua mahluk memang
diciptakan untuk hidup dan saling menyayangi, tak terkecuali dengan Iken dan
keempat kucingnya, sekarang.
Friday, May 9, 2014
Ketika Karier Mencintaiku
“Halo, ada orang?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku,
tepat di depan pintu kelas
“Ada, masuk aja.”
“eh Tama sudah datang. Kebetulan…”
Oh, Jasmine rupanya. Dia adalah teman sekelasku. Teman
seperjuangan yang tidak mau ambil pusing. Kalau kata orang, gadis itu ibarat
tong isi nyaring bunyinya. Tapi, isiannya itu bukan murni isian sendiri, tetapi
isian orang lain yang ‘tidak sengaja’ tumpah ke dalam tong nya.
Perkenalkan, Namaku Tam Ehira Mahatma. Panggilan akrabnya
Tam, bisa juga dipanggil ucok. Sekarang sedang mengenyam pendidikan di salah
satu SMAN di Jakarta Selatan, kelas 2. Hari ini pr sedang tidak terlalu banyak
menumpuk, Cuma fisika. Namun, kita disuruh mengerjakan 2 halaman sekaligus,
yang sudah pasti tidak diajarkan saat SMP dulu. Bukan bermaksud menakuti, Cuma
inilah yang terjadi jika masuk ke sekolah favorit. Kita dituntut untuk serba
mandiri.
Jasmine Rukita, adalah temanku sejak menginjak bangku TK. Ia
selalu membuntutiku kemana pun aku pergi. Cuma, akhir akhir ini dia agak sedikit
menjauh semenjak diajak candle-light-dinner dari kekasihnya seminggu yang lalu.
Aku mengerti, supaya kita tidak ada rasa cemburu satu sama lain. Mengingat,
kekasihnya itu adalah Galuh, sahabatku juga.
“Kebetulan kenapa ya?” Aku bertanya ditengah kantuk pagi
yang menyerang.
“Jasmine nyontek fisikanya ya, plis… sekali aja.” Jasmine
memelas.
“sekali? Udah lima kali kamu bilang kata ’sekali aja’. Dasar
pemalas.”
“Ya Jasmine ngerti otak jasmine gak sepintar Tama. Plis ya?”
“Yaudah”.
Setelah perdebatan yang cukup merumitkan itu, dan setelah
akhirnya hati ini kembali luluh, seketika itu juga Galuh datang dengan
semangat. Entah apa yang ada dipikirannya.
“pagi Jasmine, pagi Tam. Gua boleh…..” Galuh menyapa.
“Nyontek kan? Bukunya ada di Jasmine. Berdua aja sana
ngerjainnya.” Jawabku sekenanya.
5 menit berselang, Galuh kembali ke meja disampingku, lalu
bertanya,
“Tam, lu masih single? Ya ampun. Apa hidup lu gak hampa?”
“Hampa? Enggak kayanya. Kenapa?”
“Ya, semua mahluk hidup itu hidup berpasangan. Setidaknya
pasangan kita bisa dijadikan motivasi. Apa iya lu masih mau single sampai
kuliah?”.
Apa yang dikatakan Galuh ada benarnya juga. Akhir-akhir ini
aku memang sedang merasakan yang namanya pubertas-dimana seseorang memiliki
ketertarikan dengan perempuan-. Masalahnya sekarang adalah, mana ada yang mau.
“Ya sih luh, Cuma.. Apa ada yang mau sama aku? Tampangku
culun begini.”
“Culun darimana? Muka lu tuh unique. Ganteng, brewokan lagi.
Lu tau adiknya Jasmine? Dia juga lagi single soalnya.”
“Ohh, Indira? Trus kalo dia single kenapa?”
“Siapa tau itu jodoh lu.”
Tak terasa obrolan panjangku dengan Galuh, sehingga bel pun
telah berbunyi. Semua siswa telah masuk kelas, dan siap belajar. Namun, berbeda
denganku. Aku masih memikirkan kata yang diucapkan Galuh, apalagi ia
membicarakan Indira. Gadis kelas 10-A yang menjadi primadona di SMA kami.
Kembang SMA istilahnya.
……………………………………………………..
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30. Bel pun sudah
berkumandang tanda istirahat. Aku, Galuh, dan Jasmine langsung keluar menuju
selasar. Tak lupa, membawa kartu pengunjung perpustakaan. Ya, kebiasaan kami
memang selalu membaca. Ini sudah dilakukan bahkan ketika kita belum saling
kenal sekalipun.
“Yah luh, penuh. Kita duduk dimana ya?” Tanya Jasmine ketika
sudah sampai di depan pintu.
“Itu ada dua yang kosong. Gua sama Jasime duduk di sana ya,
Galuh cari sendiri” Balas Galuh dengan licik. Dasar…
Buku segera kami pilih. Jasmine memilih buku Layar
Terkembang, Galuh mengambil buku tentang olahraga, dan aku mencari di mana
letak buku tentang cinta.
“Akhirnya ketemu juga” Sahutku. Judul bukunya yaitu, ‘Cinta
atau Karier?’
Lama aku menunggu murid lain yang selesai membaca, dan
akhirnya dapat juga gilirannya. Letaknya tepat di sudut perpustakaan, dan
ditemani oleh seorang perempuan yang amatlah menawan. Dan itu pasti, Indira.
“Permisi, boleh duduk di sini? Aku lihat bangku yang lain
penuh.” Tanyaku gugup.
“Oh ya tentu, kenapa tidak?” Jawab perempuan itu.
“Wih, bacanya fisika.” Tanyaku menggoda.
“Iya nih, pr fisika lagi banyak. Mau gak mau harus baca ini.
Kamu juga bacanya tentang cinta, cie”
Perempuan itu ternyata ramah.
“Kamu Indira adiknya Jasmine bukan?”
“Iya kak Tama,” Indira menjawab sambil tersenyum. Di saat
itu, aku merasakan seperti ada sesuatu yang meyakinkanku bahwa Indira memang
ada ketertarikan dengaku. Cuma, dia menunggu lelaki yang menyatakan cintanya
duluan. Kusudahi obrolan, lalu masing-masing fokus membaca.
……………………
KRINGGG!!!
“Cie tadi ada yang duduk sama Indira” Jasmine menggodaku
nakal.
“Ih apaan sih, emang kebetulan aja.”
“Bentar lagi juga jadian. Iya gak say?” Galuh pun
ikut-ikutan.
“Iya. Tapi sih aku gak setuju kalau Indira sama Tama beneran
jadian, Aku kan kakaknya.” Jasmine memasang muka cemberut.
“Yah Jasmine, jangan dong.” Aku memelas.
“Tuh kan Tama suka, iya iya Jasmine Restuin.” Jasmine
tertawa kecil.
Sepanjang sekolah, aku tidak henti-hentinya memikirkan
Indira. Gadis sunda itu rupanya telah memikat hati lelaki culun ini. Rambutnya
yang indah sebahu, tampak dijaga dengan baik. Tubuhnya yang proporsional, sama
seperti kakaknya. Oh pantas banyak yang tertarik dengannya.
Pulang sekolah tiba, kita bertiga langsung menuju parkiran
motor. Jasmine akan pulang bersama Galuh, dan aku dengan kesendirianku. Saat
menuju tempat itulah, tiba-tiba aku melihat Indira sedang kebingungan.
“Indira, ada apa? Kok terlihat bingung?” Tanyaku heran.
“Ini kak, Indira gak dijemput sama ojek. Indira bingung mau
naik apa. Angkot jauh banget dari sini. Belum lagi kalau ada apa-apa di jalan.”
Indira gelisah
“loh, kan ada Jasmine?”
“Kak Jasmine sama Galuh, masa iya Indira ganggu?”
Suatu ide muncul di pikiranku. Berhubung aku juga membawa
motor vespa tua, kenapa tidak ku antar sekalian Indira ke rumahnya? Sampai di
rumahnya, aku langsung menyatakan cinta ke dia. Tapi, takut gagal. Ah dasar
lelaki culun.
“Kak Tama bawa motor kan? Boleh nebeng gak?” Indira memelas.
Mukanya terlihat lugu saat dia berekspresi layaknya anak kecil meminta es krim
kepada ibunya.
“oh, emm…. Boleh deh. Nanti arahin ya” Jawabku tersenyum.
Dalam hatiku, aku tak perlu menawarkan motor vespa itu. Justru dia yang
bertanya. Aku pun juga langsung mempersiapkan langkah berikutnya untuk mengajak
dia.., pacaran.
Motor segera ku keluarkan. Tampak Jasmine dan Galuh sudah
pergi dari sana. Mungkin mereka terlalu sibuk sehigga aku tak melihat mereka
keluar dari gerbang. Tak berselang, Indira sudah ada di belakang. Tak lupa
kuberikan helm kepadanya, supaya aman. Kita pun segera melaju ke rumahnya di
daerah Kemang.
30 menit perjalanan, ditambah macetnya Ibukota. Akhirnya
sampai juga di rumahnya Indira (dan Jasmine tentunya). Aku melihat komplek
kakak beradik itu memang sangat sepi. Rumahnya pun tidak terlalu besar, namun
cukup untuk keluarga kecil. Hanya tampak motor Galuh yang terparkir di
garasinya.
“Makasih ya kak, udah nganterin Indira.”
“Sama-sama. Kakak boleh ngomong sesuatu ke Indira? Jangan
marah ya.”
“Apa kak?”
“Indira mau jadi pacar Tama yang culun ini gak?”
Indira sejenak terdiam. Mukanya terlihat kesal. Aku jadi
pesimis cintaku akan diterima olehnya.
“Maaf kak, aku tidak bisa.” Jawab Indira datar.
“Oh iya, jangan dipaksa ya.” Kataku bergetar lalu lekas
berkemas untuk pergi.
“Tunggu kak, eh Tam. Maksud Indira.. tidak bisa menolak.”
Indira tersenyum senang.
Pada saat itu aku merasakan kejantanan seorang Tama sedang
keluar. Bumi ini serasa hanya milik kita berdua yang baru saja tumbuh cintanya.
Oh, senang sekali akhirnya aku dapatkan Indira.
“Cieee ada yang baru jadian, Indira ayo pulang. Siapa itu
lelaki yang mengantarkanmu?” Jasmine muncul dari pintu garasi. Rupanya ia
membuntuti kami.
“Ehm, Galuh seneng deh. Ehm ehm.” Sahut Galuh setelahnya.
Indira tersipu malu, lalu berkata,
“Yaudah, Indira masuk dulu ya. I Love You.”
Beginikah cinta? Dapat membuat kita terbang kapan saja?
Indahnya cinta.
“I Love You too Indira, bbm nanti sore ya.” Jawabku dengan
perasaan berbunga-bunga.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari hp. Setelah itu,
berusaha mengontak Indira. Tidak ada jawaban darinya. Kucoba menghubunginya
lewat bbm. Terkirim, Cuma tidak dibaca.
“Mungkin Indira sedang belajar.” Pikirku. Rajin juga anak
ini.
…………………
Keesokan harinya, seperti biasa setengah enam aku sudah tiba
di sekolah. Dibandingkan kemarin, jujur hari ini aku lebih berdandan. Mungkin
gejala demam pubertas-ingin terlihat berbeda di mata pacarnya-.
05.50. Jasmine dan Galuh datang bersamaan. Kali ini tidak
ada seucap kata pun dari mereka. Mungkin mereka hanya membutuhkanku disaat ada
pr saja, ah tidak juga.
“Pagi Luh, Min, Indira udah datang belom?” Tanyaku sambil
merapihkan rambut.
“Indira? Coba cek sendiri deh.” Kata Jasmine datar. Lalu aku
bergegas ke lantai satu, kelas Indira.
“Misi, nif. Ada Indira?” Tanyaku penasaran.
“belum datang. Ada apa nyariin Indira?” Jawab Hanif sinis.
“Oh tidak, ada perlu aja.”
Aku bingung dengan hari ini, kenapa semua orang terlihat
jaim padaku? Apa yang salah?
………………………………………………….
Sepulang sekolah, seperti biasa kami bertiga langsung menuju
parkiran. Aku menunggu Indira, setelah Galuh dan Jasmine pulang. 30 menit
berlalu, tak ada tanda-tanda gadis itu akan datang. Kucoba untuk menelpon,
tetapi tidak diangkat. Maka kuputuskan untuk langsung menuju rumahnya, karena
hari ini ada film yang cukup menarik, sehingga aku berpikir untuk mengajak
Indira pergi.
Sesampainya di rumah Indira, masih sama seperti suasana
kemarin -sepi dan ada dua motor-. Dua? Bukannya cuma ada Galuh di rumah?
Setahuku, orangtua Jasmine dan Indira sedang ikut symposium. Dengan perasaan
bingung, aku mencoba masuk.
Baru sampai depan pagar, tiba-tiba Indira keluar. Ia
mengenakan baju yang sangat rapih. Dan tepat dibelakangnya, ada seorang lelaki
yang kupikir seusia. Itu, hanif. Ada apa hanif ke sini?
“Loh Tama, ngapain ke sini?” tanya Indira berkeringat.
“Tama mau mengajak Indira nonton, Hanif ngapain di sini ya?”
Tanyaku polos.
“kak Tama yang ngapain di sini! Hanif mau pergi sama Indira!”
Sela Hanif sinis.
Aku sejenak diam. Hati ini terasa dikhianati. Baru kemarin
aku merasakan indahnya cinta, sekarang malah dipermainkan seperti ini.
“Maa… Maaf Kak Tama. Sebenernya, aku sudah memiliki Hanif.
Cuma, kemarin itu aku tidak enak hati dengan kakak. Maksudnya, kakak memang
tampan. Cuma….. Aduh maaf ya kak.” Indira beralasan dengan wajah tertunduk.
“Kenapa gak bilang dari kemarin? Kakak akan mengerti kalau
kamu jujur. Itu lebih baik daripada harus seperti ini.” Aku berkata dengan
suara setengah hati, lalu bergegas pergi keluar.
“Sekarang udah tau kan ceritanya? Pergi lo tama! Ayo sayang
kita jalan.” Hanif berteriak, lalu bergegas menggandeng Indira menuju motor
Ninja-nya.
Semenjak saat itu, aku jadi mengerti bahwa Cintanya Indira
hanya settingan antara Galuh dengan Jasmine. Mereka melakukan itu hanya demi
melihat sahabatnya itu tersenyum bahagia. Dengan cara seperti ini, mana mungkin
aku bisa tersenyum. Hanya membuang waktuku saja.
Seminggu kemudian, aku mulai menikmati kesendirianku lagi. Tak
ada Indira, tak ada siapapun. Jasmine dan Galuh juga mulai kembali akrab
denganku. Walaupun aku mendengar bahwa ada banyak murid seusia Indira yang
jatuh cinta denganku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan indahnya
cinta, saat aku sudah siap merasakannya.
Wednesday, February 26, 2014
hari ini mimin disuruh guru komputer copas apapun dari internet. Karena mimin suka lagunya Let It Go, maka mari kita posting liriknya.
Let it go, let it goCan't hold it back anymore
Let it go, let it goTurn my back and slam the door
The snow glows white on the mountain tonight,Not a footprint to be seen.A kingdom of isolation and it looks like I'm the queen.The wind is howling like the swirling storm inside.Couldn't keep it in, heaven knows I tried.
Don't let them in, don't let them see,be the good girl you always had to be.Conceal, don't feel, don't let them know.Well now they know.
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway
It's funny how some distance makes everything seem smallAnd the fuse that once controlled me, can't get to me at all.Up in here in the cold wind air, I finally can breathe.I know I left a life behind, but I'm too relieved to grieve.
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand, and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway
(Standing, frozen, in the life I've chosen you will find methe past is well behind me, buried in the snow)
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand, and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway, woah(na na, na na, na na na na) [x4]Na, na, you said, let it go, let it go, ooooLet it go
copied from : Kapanlagi.com
Let it go, let it goCan't hold it back anymore
Let it go, let it goTurn my back and slam the door
The snow glows white on the mountain tonight,Not a footprint to be seen.A kingdom of isolation and it looks like I'm the queen.The wind is howling like the swirling storm inside.Couldn't keep it in, heaven knows I tried.
Don't let them in, don't let them see,be the good girl you always had to be.Conceal, don't feel, don't let them know.Well now they know.
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway
It's funny how some distance makes everything seem smallAnd the fuse that once controlled me, can't get to me at all.Up in here in the cold wind air, I finally can breathe.I know I left a life behind, but I'm too relieved to grieve.
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand, and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway
(Standing, frozen, in the life I've chosen you will find methe past is well behind me, buried in the snow)
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand, and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway, woah(na na, na na, na na na na) [x4]Na, na, you said, let it go, let it go, ooooLet it go
copied from : Kapanlagi.com
Saturday, February 1, 2014
first posting
Ehm. Gimana gua mulainya ya?
Oh iya, gini aja.
Untuk first posting hari ini, gue mau ngenalin diri dulu.
let's check this out
Nama gue, Tam Ehira Mahatma. Ini nama inisial pastinya. Disini gue akan berperan sebagai tokoh utama yang absolutely akan selalu menjadi korban si author. Umur gue, 11 tahun. Sekolah dibilangan Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan. Hobi gue, makan sama nyari WiFi gratis. Keluarga gue, ya standar lah. Bokap, nyokap, adek satu. Gak terlalu loyal amat, cukup lah buat hidup sehari-hari. Aktifitas gue sekarang, ngejalanin hidup sebagai anggota Pramuka Inti regu Rubah Hitam (regu samaran). Nah, ini dia yang bakal gua ulasa di next posting. Well, segitu dulu ya. Kalo ada pertanyaan, bisa follow si author @fauziseta. See you at next post.
Brosist, Tam.
Merdeka!!
Oh iya, gini aja.
Untuk first posting hari ini, gue mau ngenalin diri dulu.
let's check this out
Nama gue, Tam Ehira Mahatma. Ini nama inisial pastinya. Disini gue akan berperan sebagai tokoh utama yang absolutely akan selalu menjadi korban si author. Umur gue, 11 tahun. Sekolah dibilangan Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan. Hobi gue, makan sama nyari WiFi gratis. Keluarga gue, ya standar lah. Bokap, nyokap, adek satu. Gak terlalu loyal amat, cukup lah buat hidup sehari-hari. Aktifitas gue sekarang, ngejalanin hidup sebagai anggota Pramuka Inti regu Rubah Hitam (regu samaran). Nah, ini dia yang bakal gua ulasa di next posting. Well, segitu dulu ya. Kalo ada pertanyaan, bisa follow si author @fauziseta. See you at next post.
Brosist, Tam.
Merdeka!!
Subscribe to:
Posts (Atom)