Minggu, 25 Februari 2014. Seperti biasa, setelah sholat
shubuh, Iken langsung membuat sarapan untuk kucingnya. Ia memang menyukai
binatang berbulu itu. Baginya, mereka sudah seperti adik sendiri, di mana ia
bisa memanggil kapan saja saat dibutuhkan.
“Menu hari ini, pindang kucing. Hmm, pasti suka.” Gumam Iken
dalam hati.
Setelah semua siap, Iken segera bergegas keluar. Aroma ikan
segar langsung tercium ketika ia melewati dapur. Lima ekor kucing sudah siap
melahap santapan itu. Bulu berwarna coklat dilapisi putih es krim menghiasi
tubuh mereka.
“Ini makanan buat kalian, habiskan ya.” Sahut Iken seraya
meletakkan piring-piring mungil di atas aspal jalan.
06.30. Iken telah selesai berkemas, dan bersiap untuk pergi
ke kampus. Pakaiannya rapih seperti anak pejabat, berwangikan parfum rosemary.
Tak lupa sebelum ia pergi, ia pamit kepada orang tuanya.
“Ma, pa, pergi dulu ya.” Iken berlalu menyalami kedua orang
tuanya
“Iya, hati-hati ya.” Sahut Mama Iken.
Iken pergi ke kampus dengan jalan kaki. Itu dikarenakan
letaknya tak terlalu jauh dari rumah, tepat belok kiri dari komplek. Ketika ia
hendak membuka pagar, tiba-tiba seekor kucing mendekati dirinya, seraya
menjatuhkan dirinya seperti ingin dimanja. Sontak Iken tersenyum, dan berkata,
“Manis, Iken mau ke kampus dulu ya. Permisi”
Kucing itu tetap tidak mau pergi. Digulingkannya badan ke
kanan dan ke kiri untuk mencari perhatian kepada sang majikan, gegas berlari
dan kembali menidurkan dirinya tepat di kaki Iken.
“Manis, udah dong bercandanya. Nanti telat nih.” Iken sudah
mulai emosi.
Sepanjang perjalanan, kucing kuning itu mengikuti Iken
kemanapun ia pergi. Wajahnya yang lugu namun terlihat serius mengisyaratkan
Iken agar tidak pergi.
“Duh, Manis! Balik ke rumah. Nanti kamu tersesat!” Iken
membentak kepada kucing itu, lalu segera menggendongnya menuju ke arah yang
benar.
Sang kucing sejenak terdiam. Namun dirinya tak habis akal,
ia berlari memanjati pohon, dan mengeong lah ia. Iken tak menghiraukan eongan
si Manis itu. Dirinya tetap konsen menuju ke kampus.
Manis, segera berlari kembali menuju Iken. Sontak gadis itu
terkejut, dan membentak,
“kembali!” Iken menendang perut si Manis sekencang ia bisa.
Manis terdiam. Mukanya ditundukkan ke bawah, seperti menahan
sakit. Iken melihat sekilas, lantas pergi meninggalkan kucingnya yang malang. Sekarang,
sudah 500 meter jauhnya Manis meninggalkan wilayah rimbanya.
Sesampainya di kampus, Iken segera membuka buku mata
kuliahnya. Sambil menghitung lembaran demi lembaran kertas yang tanpa jelas
tujuannya. Pikirannya tertuju pada si Manis, kenapa hari ini ia ingin sekali
pemiliknya berada di dekat dirinya, padahal seperti biasa, jika segerombolan
kucing itu telah kenyang, mereka akan membubarkan diri dan melaksanakan dinas
kekucingannya masing-masing.
Pikiran si Manis perlahan menghilang setelah teman-teman
sekelas Iken datang satu per satu. Terutama Layla, sahabat karibnya sejak SMA.
Ia tak sabar, siapa lagi yang akan digosipkannya kali ini.
“Pagi Iken, tumben bawa tas berat banget” Sapa Kayla datar.
“Pagi juga La, iya. Lu tau sendiri kan hari ini mata
kuliahnya siapa? Iya Pak Hendro. Masa iya tangan gua dipukul pake laptop lagi,
gara-gara lks ketinggalan?” Jawab Iken serius.
“Gitu aja dianggap serius, Ken. By the way, pulang kuliah
ada acara gak? Kita nonton yuk. Ada referensi film bagus hari ini, sekalian
cari cogan.” Kayla meledek Iken, yang sampai sekarang belum mau pacaran.
“Boleh deh, gua juga lagi bawa banyak duit.” Iken menanggapi
ajakan Kayla.
Waktu berlalu begitu cepat, sehingga tak terasa sudah menuju
pukul 12.00. Setelah selesai kuliah, kedua gadis itu segera menuju parkiran,
lantas pergi meninggalkan ingupnya dunia kampus. Ketika di perjalanan, Iken
seolah teringat kembali dengan kejadian yang ia alami tadi pagi. Ya, kejadian
si Manis. Tapi segera dilupakannya, karena jika tidak dilupakan, akan menjadi
beban.
“Kita parkir di sini aja ya, tuh bioskopnya.” Sambil menunjuk
salah satu tempat parkir, yang letaknya tak jauh dari pintu masuk mall, tepat
depan bioskop, di lantai empat.
Selama di bioskop, mereka tertawa senang. Tak ada pikiran
kampus, tak ada juga pikiran pr yang menghantui hidup mahasiswi ini. Mereka
tampak menikmati hari itu, tentunya diselingi godaan demi godaan si Kayla
kepada bayak cowok yang mampir di pandangan kedua gadis itu.
“Have fun banget, ya Ken. Tadi ada satu cowok yang pas gua
godain, dia langsung kabur gitu. Lu piker gua setan apa?” Gelutuk Kayla sambil
mengerutkan wajahnya.
“Ia, tadi juga ada cowok yang mandangin gua terus. Jadi
khawatir disantet.” Canda Iken.
Sekaleng soda menemani perjalanan pulang Iken dan Kayla. Tak
lupa, mereka saling tertawa mengingat reaksi kaum adam ketika mereka godai. Tak
terasa sudah sampai di depan gang rumah Iken, sehingga ia lantas berpamitan
pada Kayla.
“Makasih ya La, seneng banget gua hari ini.”
“iya sama-sama, awas kena santet” Tawa kayla.
Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang satu sama lain,
agaknya Iken pulang sangat larut dari biasanya. Ia khawatir orangtuanya akan
mengucinya di depan rumah seperti tahun lalu, maka segeralah diambilnya handphone
dari tas.
“Loh, mama nelpon lima kali tak terjawab, papa juga. Ada
apa?” Iken terlihat cemas. Tubuhnya lesu. Ia segera berlari cepat menuju
rumahnya. Tepat di depan rumah, sebuah darah tampak melingkar abstrak di aspal -tampak
masih segar.- Ia melewati kucing-kucing, yang mukanya agak lebih muram
dibandingkan tadi pagi. Bahkan, Pindang ikan yang diberikan ibu Iken pun tak
dimakan, tetap utuh.
“Ada apa ma?” Tanya Iken cemas.
“Iken darimana? Ibu ingin memberitahukanmu sesuatu,” Jawab
Mama Iken.
“Ya, ceritakan.” Sabar Iken.
“kamu tau manis? Dia baru saja tertabrak mobil pak Ruslan.”
Ibu Iken tertunduk sedih.
“Iya apa? Lalu bagaimana dia sekarang?” Iken semakin
khawatir.
“Pak Ruslan telah baik kepada Manis, dia dipinggirkan ke
tepi jalan, lalu melapor pada Bapak. Sekarang Manis ada di samping ayunan.
Tengoklah, siapa tau dia masih hidup.
Iken segera berlari menuju Manis. Terlihat di samping
ayunan, Manis tergeletak lemas. Darah bercuruan dari balik kepalanya yang
manis. Namun, ia masih terlihat hidup.
“Manis, kamu kenapa? Ayo kita ke dokter hewan.” Iken
menangis. Dibalutkannya si Manis yang telah tergerai lemas dengan kassa,
berharap ada kesempatan untuk melihatnya satu kali lagi.
Di tempat dokter hewan, tepat di seberang jalan, Iken segera
berlari menghadap sang dokter. Tampak pengendara lainnya seakan mengerti
keadaan Iken saat itu ketika ia akan menyebrang. Bahkan warga pun turut
bersimpati pada gadis teledor itu.
“Dokter, tolong kucing saya. Dia baru saja terlindas mobil.”
Sahut Iken menjerit.
“Ya ampun, ayo letakkan di kasur ini.” Dokter menunjuk kasur
di sebelahnya. Tanpa pikir panjang, Iken segera melaksanakan apa perintah
dokter.
Dokter memeriksa satu persatu tubuh Manis dengan perlahan,
takut sesuatu terjadi. Tampak dengan jelas tulang kucing itu sudah menembus
kulitnya, namun jantungnya masih berfungsi, meski tak akan lama.
“Kamu majikan yang baik. Tepat sekali kamu bawa kucing
ini kesini.”
“Apa yang terjadi dokter?” Iken mengelap tangisnya dengan
handuk kecil.
“Kucingmu Nampak sangat bahagia mempunyai majikan seperti
dik Iken. Saya tau, tadi pagi ketika kamu akan pergi ke sekolah, kucing itu
dengan setia menemanimu sampai ujung gapura, tapi kamu malah menendangnya. Mungkin
itu firasat terakhir untukmu, bahwa jangan meninggalkan dirinya untuk yang
terakhir kalinya. Tapi kamu tak menggubris firasat itu. Pergi ke ruang saya
sekarang, dan mintalah maaf kepadanya untuk yang terakhir.”
Iken segera berlari menuju ruang praktek. Ia melihat Manis
untuk sekali lagi terbaring lemah, dan semakin lemah. Lukanya kian menjadi, dan
seketika kasur hitam itu pun berubah menjadi lautan darah.
“Manis, kau masih bisa melihatku? Aku minta maaf karena
telah lalai dalam mengikuti firasatmu. Sampai sampai aku harus menendangmu
dengan keras. Aku tau, itu sakit bagimu. Tapi kamu tak menunjukkan kesakitanmu
dan tetap tersenyum dengan kumismu yang indah. Maafkan aku manis, aku berjanji
akan merawat saudaramu yang lain sama seperti aku merawatmu dengan kasih
sayang. Jikalau kamu mengerti apa yang aku ucapkan, tapi itu nampaknya
mustahil.”
Iken menangis sejadi-jadinya, seakan air matanya akan
dihabiskan saat itu juga. Tak lama berselang, Manis melongok ke Iken, dan
dengan senyumnya yang manis, ia mengeong, Dan itu adalah eongan terakhirnya
sebelum ia menutup mata, dan pergi meninggalkan Iken. Gadis itu tak kuasa
menahan tangis, pada akhirnya ia menyerah dan mundur.
“Kami akan mengurus jasadnya, pergilah pulang Iken. Sering
seringlah menengok kucingmu di sini.
Semenjak saat itu, Iken menjadi lebih sayang dengan
kucingnya. Ia bahkan rela meninggalkan Kayla dengan keglamouran hidupnya, hanya
untuk memberi perhatian penuh kepada sang kucing. Semua mahluk memang
diciptakan untuk hidup dan saling menyayangi, tak terkecuali dengan Iken dan
keempat kucingnya, sekarang.