Friday, May 9, 2014

Ketika Karier Mencintaiku

“Halo, ada orang?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku, tepat di depan pintu kelas
“Ada, masuk aja.”
“eh Tama sudah datang. Kebetulan…”
Oh, Jasmine rupanya. Dia adalah teman sekelasku. Teman seperjuangan yang tidak mau ambil pusing. Kalau kata orang, gadis itu ibarat tong isi nyaring bunyinya. Tapi, isiannya itu bukan murni isian sendiri, tetapi isian orang lain yang ‘tidak sengaja’ tumpah ke dalam tong nya.
Perkenalkan, Namaku Tam Ehira Mahatma. Panggilan akrabnya Tam, bisa juga dipanggil ucok. Sekarang sedang mengenyam pendidikan di salah satu SMAN di Jakarta Selatan, kelas 2. Hari ini pr sedang tidak terlalu banyak menumpuk, Cuma fisika. Namun, kita disuruh mengerjakan 2 halaman sekaligus, yang sudah pasti tidak diajarkan saat SMP dulu. Bukan bermaksud menakuti, Cuma inilah yang terjadi jika masuk ke sekolah favorit. Kita dituntut untuk serba mandiri.
Jasmine Rukita, adalah temanku sejak menginjak bangku TK. Ia selalu membuntutiku kemana pun aku pergi. Cuma, akhir akhir ini dia agak sedikit menjauh semenjak diajak candle-light-dinner dari kekasihnya seminggu yang lalu. Aku mengerti, supaya kita tidak ada rasa cemburu satu sama lain. Mengingat, kekasihnya itu adalah Galuh, sahabatku juga.
“Kebetulan kenapa ya?” Aku bertanya ditengah kantuk pagi yang menyerang.
“Jasmine nyontek fisikanya ya, plis… sekali aja.” Jasmine memelas.
“sekali? Udah lima kali kamu bilang kata ’sekali aja’. Dasar pemalas.”
“Ya Jasmine ngerti otak jasmine gak sepintar Tama. Plis ya?”
“Yaudah”.
Setelah perdebatan yang cukup merumitkan itu, dan setelah akhirnya hati ini kembali luluh, seketika itu juga Galuh datang dengan semangat. Entah apa yang ada dipikirannya.
“pagi Jasmine, pagi Tam. Gua boleh…..” Galuh menyapa.
“Nyontek kan? Bukunya ada di Jasmine. Berdua aja sana ngerjainnya.” Jawabku sekenanya.
5 menit berselang, Galuh kembali ke meja disampingku, lalu bertanya,
“Tam, lu masih single? Ya ampun. Apa hidup lu gak hampa?”
“Hampa? Enggak kayanya. Kenapa?”
“Ya, semua mahluk hidup itu hidup berpasangan. Setidaknya pasangan kita bisa dijadikan motivasi. Apa iya lu masih mau single sampai kuliah?”.
Apa yang dikatakan Galuh ada benarnya juga. Akhir-akhir ini aku memang sedang merasakan yang namanya pubertas-dimana seseorang memiliki ketertarikan dengan perempuan-. Masalahnya sekarang adalah, mana ada yang mau.
“Ya sih luh, Cuma.. Apa ada yang mau sama aku? Tampangku culun begini.”
“Culun darimana? Muka lu tuh unique. Ganteng, brewokan lagi. Lu tau adiknya Jasmine? Dia juga lagi single soalnya.”
“Ohh, Indira? Trus kalo dia single kenapa?”
“Siapa tau itu jodoh lu.”
Tak terasa obrolan panjangku dengan Galuh, sehingga bel pun telah berbunyi. Semua siswa telah masuk kelas, dan siap belajar. Namun, berbeda denganku. Aku masih memikirkan kata yang diucapkan Galuh, apalagi ia membicarakan Indira. Gadis kelas 10-A yang menjadi primadona di SMA kami. Kembang SMA istilahnya.
……………………………………………………..
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30. Bel pun sudah berkumandang tanda istirahat. Aku, Galuh, dan Jasmine langsung keluar menuju selasar. Tak lupa, membawa kartu pengunjung perpustakaan. Ya, kebiasaan kami memang selalu membaca. Ini sudah dilakukan bahkan ketika kita belum saling kenal sekalipun.
“Yah luh, penuh. Kita duduk dimana ya?” Tanya Jasmine ketika sudah sampai di depan pintu.
“Itu ada dua yang kosong. Gua sama Jasime duduk di sana ya, Galuh cari sendiri” Balas Galuh dengan licik. Dasar…
Buku segera kami pilih. Jasmine memilih buku Layar Terkembang, Galuh mengambil buku tentang olahraga, dan aku mencari di mana letak buku tentang cinta.
“Akhirnya ketemu juga” Sahutku. Judul bukunya yaitu, ‘Cinta atau Karier?’
Lama aku menunggu murid lain yang selesai membaca, dan akhirnya dapat juga gilirannya. Letaknya tepat di sudut perpustakaan, dan ditemani oleh seorang perempuan yang amatlah menawan. Dan itu pasti, Indira.
“Permisi, boleh duduk di sini? Aku lihat bangku yang lain penuh.” Tanyaku gugup.
“Oh ya tentu, kenapa tidak?” Jawab perempuan itu.
“Wih, bacanya fisika.” Tanyaku menggoda.
“Iya nih, pr fisika lagi banyak. Mau gak mau harus baca ini. Kamu juga bacanya tentang cinta, cie”
Perempuan itu ternyata ramah.
“Kamu Indira adiknya Jasmine bukan?”
“Iya kak Tama,” Indira menjawab sambil tersenyum. Di saat itu, aku merasakan seperti ada sesuatu yang meyakinkanku bahwa Indira memang ada ketertarikan dengaku. Cuma, dia menunggu lelaki yang menyatakan cintanya duluan. Kusudahi obrolan, lalu masing-masing fokus membaca.
……………………
KRINGGG!!!
“Cie tadi ada yang duduk sama Indira” Jasmine menggodaku nakal.
“Ih apaan sih, emang kebetulan aja.”
“Bentar lagi juga jadian. Iya gak say?” Galuh pun ikut-ikutan.
“Iya. Tapi sih aku gak setuju kalau Indira sama Tama beneran jadian, Aku kan kakaknya.” Jasmine memasang muka cemberut.
“Yah Jasmine, jangan dong.” Aku memelas.
“Tuh kan Tama suka, iya iya Jasmine Restuin.” Jasmine tertawa kecil.
Sepanjang sekolah, aku tidak henti-hentinya memikirkan Indira. Gadis sunda itu rupanya telah memikat hati lelaki culun ini. Rambutnya yang indah sebahu, tampak dijaga dengan baik. Tubuhnya yang proporsional, sama seperti kakaknya. Oh pantas banyak yang tertarik dengannya.
Pulang sekolah tiba, kita bertiga langsung menuju parkiran motor. Jasmine akan pulang bersama Galuh, dan aku dengan kesendirianku. Saat menuju tempat itulah, tiba-tiba aku melihat Indira sedang kebingungan.
“Indira, ada apa? Kok terlihat bingung?” Tanyaku heran.
“Ini kak, Indira gak dijemput sama ojek. Indira bingung mau naik apa. Angkot jauh banget dari sini. Belum lagi kalau ada apa-apa di jalan.” Indira gelisah
“loh, kan ada Jasmine?”
“Kak Jasmine sama Galuh, masa iya Indira ganggu?”
Suatu ide muncul di pikiranku. Berhubung aku juga membawa motor vespa tua, kenapa tidak ku antar sekalian Indira ke rumahnya? Sampai di rumahnya, aku langsung menyatakan cinta ke dia. Tapi, takut gagal. Ah dasar lelaki culun.
“Kak Tama bawa motor kan? Boleh nebeng gak?” Indira memelas. Mukanya terlihat lugu saat dia berekspresi layaknya anak kecil meminta es krim kepada ibunya.
“oh, emm…. Boleh deh. Nanti arahin ya” Jawabku tersenyum. Dalam hatiku, aku tak perlu menawarkan motor vespa itu. Justru dia yang bertanya. Aku pun juga langsung mempersiapkan langkah berikutnya untuk mengajak dia.., pacaran.
Motor segera ku keluarkan. Tampak Jasmine dan Galuh sudah pergi dari sana. Mungkin mereka terlalu sibuk sehigga aku tak melihat mereka keluar dari gerbang. Tak berselang, Indira sudah ada di belakang. Tak lupa kuberikan helm kepadanya, supaya aman. Kita pun segera melaju ke rumahnya di daerah Kemang.
30 menit perjalanan, ditambah macetnya Ibukota. Akhirnya sampai juga di rumahnya Indira (dan Jasmine tentunya). Aku melihat komplek kakak beradik itu memang sangat sepi. Rumahnya pun tidak terlalu besar, namun cukup untuk keluarga kecil. Hanya tampak motor Galuh yang terparkir di garasinya.
“Makasih ya kak, udah nganterin Indira.”
“Sama-sama. Kakak boleh ngomong sesuatu ke Indira? Jangan marah ya.”
“Apa kak?”
“Indira mau jadi pacar Tama yang culun ini gak?”
Indira sejenak terdiam. Mukanya terlihat kesal. Aku jadi pesimis cintaku akan diterima olehnya.
“Maaf kak, aku tidak bisa.” Jawab Indira datar.
“Oh iya, jangan dipaksa ya.” Kataku bergetar lalu lekas berkemas untuk pergi.
“Tunggu kak, eh Tam. Maksud Indira.. tidak bisa menolak.” Indira tersenyum senang.
Pada saat itu aku merasakan kejantanan seorang Tama sedang keluar. Bumi ini serasa hanya milik kita berdua yang baru saja tumbuh cintanya. Oh, senang sekali akhirnya aku dapatkan Indira.
“Cieee ada yang baru jadian, Indira ayo pulang. Siapa itu lelaki yang mengantarkanmu?” Jasmine muncul dari pintu garasi. Rupanya ia membuntuti kami.
“Ehm, Galuh seneng deh. Ehm ehm.” Sahut Galuh setelahnya.
Indira tersipu malu, lalu berkata,
“Yaudah, Indira masuk dulu ya. I Love You.”
Beginikah cinta? Dapat membuat kita terbang kapan saja? Indahnya cinta.
“I Love You too Indira, bbm nanti sore ya.” Jawabku dengan perasaan berbunga-bunga.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari hp. Setelah itu, berusaha mengontak Indira. Tidak ada jawaban darinya. Kucoba menghubunginya lewat bbm. Terkirim, Cuma tidak dibaca.
“Mungkin Indira sedang belajar.” Pikirku. Rajin juga anak ini.
…………………
Keesokan harinya, seperti biasa setengah enam aku sudah tiba di sekolah. Dibandingkan kemarin, jujur hari ini aku lebih berdandan. Mungkin gejala demam pubertas-ingin terlihat berbeda di mata pacarnya-.
05.50. Jasmine dan Galuh datang bersamaan. Kali ini tidak ada seucap kata pun dari mereka. Mungkin mereka hanya membutuhkanku disaat ada pr saja, ah tidak juga.
“Pagi Luh, Min, Indira udah datang belom?” Tanyaku sambil merapihkan rambut.
“Indira? Coba cek sendiri deh.” Kata Jasmine datar. Lalu aku bergegas ke lantai satu, kelas Indira.
“Misi, nif. Ada Indira?” Tanyaku penasaran.
“belum datang. Ada apa nyariin Indira?” Jawab Hanif sinis.
“Oh tidak, ada perlu aja.”
Aku bingung dengan hari ini, kenapa semua orang terlihat jaim padaku? Apa yang salah?
………………………………………………….
Sepulang sekolah, seperti biasa kami bertiga langsung menuju parkiran. Aku menunggu Indira, setelah Galuh dan Jasmine pulang. 30 menit berlalu, tak ada tanda-tanda gadis itu akan datang. Kucoba untuk menelpon, tetapi tidak diangkat. Maka kuputuskan untuk langsung menuju rumahnya, karena hari ini ada film yang cukup menarik, sehingga aku berpikir untuk mengajak Indira pergi.
Sesampainya di rumah Indira, masih sama seperti suasana kemarin -sepi dan ada dua motor-. Dua? Bukannya cuma ada Galuh di rumah? Setahuku, orangtua Jasmine dan Indira sedang ikut symposium. Dengan perasaan bingung, aku mencoba masuk.
Baru sampai depan pagar, tiba-tiba Indira keluar. Ia mengenakan baju yang sangat rapih. Dan tepat dibelakangnya, ada seorang lelaki yang kupikir seusia. Itu, hanif. Ada apa hanif ke sini?
“Loh Tama, ngapain ke sini?” tanya Indira berkeringat.
“Tama mau mengajak Indira nonton, Hanif ngapain di sini ya?” Tanyaku polos.
“kak Tama yang ngapain di sini! Hanif mau pergi sama Indira!” Sela Hanif sinis.
Aku sejenak diam. Hati ini terasa dikhianati. Baru kemarin aku merasakan indahnya cinta, sekarang malah dipermainkan seperti ini.
“Maa… Maaf Kak Tama. Sebenernya, aku sudah memiliki Hanif. Cuma, kemarin itu aku tidak enak hati dengan kakak. Maksudnya, kakak memang tampan. Cuma….. Aduh maaf ya kak.” Indira beralasan dengan wajah tertunduk.
“Kenapa gak bilang dari kemarin? Kakak akan mengerti kalau kamu jujur. Itu lebih baik daripada harus seperti ini.” Aku berkata dengan suara setengah hati, lalu bergegas pergi keluar.
“Sekarang udah tau kan ceritanya? Pergi lo tama! Ayo sayang kita jalan.” Hanif berteriak, lalu bergegas menggandeng Indira menuju motor Ninja-nya.
Semenjak saat itu, aku jadi mengerti bahwa Cintanya Indira hanya settingan antara Galuh dengan Jasmine. Mereka melakukan itu hanya demi melihat sahabatnya itu tersenyum bahagia. Dengan cara seperti ini, mana mungkin aku bisa tersenyum. Hanya membuang waktuku saja.
Seminggu kemudian, aku mulai menikmati kesendirianku lagi. Tak ada Indira, tak ada siapapun. Jasmine dan Galuh juga mulai kembali akrab denganku. Walaupun aku mendengar bahwa ada banyak murid seusia Indira yang jatuh cinta denganku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan indahnya cinta, saat aku sudah siap merasakannya.



No comments:

Post a Comment