“Halo, ada orang?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku,
tepat di depan pintu kelas
“Ada, masuk aja.”
“eh Tama sudah datang. Kebetulan…”
Oh, Jasmine rupanya. Dia adalah teman sekelasku. Teman
seperjuangan yang tidak mau ambil pusing. Kalau kata orang, gadis itu ibarat
tong isi nyaring bunyinya. Tapi, isiannya itu bukan murni isian sendiri, tetapi
isian orang lain yang ‘tidak sengaja’ tumpah ke dalam tong nya.
Perkenalkan, Namaku Tam Ehira Mahatma. Panggilan akrabnya
Tam, bisa juga dipanggil ucok. Sekarang sedang mengenyam pendidikan di salah
satu SMAN di Jakarta Selatan, kelas 2. Hari ini pr sedang tidak terlalu banyak
menumpuk, Cuma fisika. Namun, kita disuruh mengerjakan 2 halaman sekaligus,
yang sudah pasti tidak diajarkan saat SMP dulu. Bukan bermaksud menakuti, Cuma
inilah yang terjadi jika masuk ke sekolah favorit. Kita dituntut untuk serba
mandiri.
Jasmine Rukita, adalah temanku sejak menginjak bangku TK. Ia
selalu membuntutiku kemana pun aku pergi. Cuma, akhir akhir ini dia agak sedikit
menjauh semenjak diajak candle-light-dinner dari kekasihnya seminggu yang lalu.
Aku mengerti, supaya kita tidak ada rasa cemburu satu sama lain. Mengingat,
kekasihnya itu adalah Galuh, sahabatku juga.
“Kebetulan kenapa ya?” Aku bertanya ditengah kantuk pagi
yang menyerang.
“Jasmine nyontek fisikanya ya, plis… sekali aja.” Jasmine
memelas.
“sekali? Udah lima kali kamu bilang kata ’sekali aja’. Dasar
pemalas.”
“Ya Jasmine ngerti otak jasmine gak sepintar Tama. Plis ya?”
“Yaudah”.
Setelah perdebatan yang cukup merumitkan itu, dan setelah
akhirnya hati ini kembali luluh, seketika itu juga Galuh datang dengan
semangat. Entah apa yang ada dipikirannya.
“pagi Jasmine, pagi Tam. Gua boleh…..” Galuh menyapa.
“Nyontek kan? Bukunya ada di Jasmine. Berdua aja sana
ngerjainnya.” Jawabku sekenanya.
5 menit berselang, Galuh kembali ke meja disampingku, lalu
bertanya,
“Tam, lu masih single? Ya ampun. Apa hidup lu gak hampa?”
“Hampa? Enggak kayanya. Kenapa?”
“Ya, semua mahluk hidup itu hidup berpasangan. Setidaknya
pasangan kita bisa dijadikan motivasi. Apa iya lu masih mau single sampai
kuliah?”.
Apa yang dikatakan Galuh ada benarnya juga. Akhir-akhir ini
aku memang sedang merasakan yang namanya pubertas-dimana seseorang memiliki
ketertarikan dengan perempuan-. Masalahnya sekarang adalah, mana ada yang mau.
“Ya sih luh, Cuma.. Apa ada yang mau sama aku? Tampangku
culun begini.”
“Culun darimana? Muka lu tuh unique. Ganteng, brewokan lagi.
Lu tau adiknya Jasmine? Dia juga lagi single soalnya.”
“Ohh, Indira? Trus kalo dia single kenapa?”
“Siapa tau itu jodoh lu.”
Tak terasa obrolan panjangku dengan Galuh, sehingga bel pun
telah berbunyi. Semua siswa telah masuk kelas, dan siap belajar. Namun, berbeda
denganku. Aku masih memikirkan kata yang diucapkan Galuh, apalagi ia
membicarakan Indira. Gadis kelas 10-A yang menjadi primadona di SMA kami.
Kembang SMA istilahnya.
……………………………………………………..
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30. Bel pun sudah
berkumandang tanda istirahat. Aku, Galuh, dan Jasmine langsung keluar menuju
selasar. Tak lupa, membawa kartu pengunjung perpustakaan. Ya, kebiasaan kami
memang selalu membaca. Ini sudah dilakukan bahkan ketika kita belum saling
kenal sekalipun.
“Yah luh, penuh. Kita duduk dimana ya?” Tanya Jasmine ketika
sudah sampai di depan pintu.
“Itu ada dua yang kosong. Gua sama Jasime duduk di sana ya,
Galuh cari sendiri” Balas Galuh dengan licik. Dasar…
Buku segera kami pilih. Jasmine memilih buku Layar
Terkembang, Galuh mengambil buku tentang olahraga, dan aku mencari di mana
letak buku tentang cinta.
“Akhirnya ketemu juga” Sahutku. Judul bukunya yaitu, ‘Cinta
atau Karier?’
Lama aku menunggu murid lain yang selesai membaca, dan
akhirnya dapat juga gilirannya. Letaknya tepat di sudut perpustakaan, dan
ditemani oleh seorang perempuan yang amatlah menawan. Dan itu pasti, Indira.
“Permisi, boleh duduk di sini? Aku lihat bangku yang lain
penuh.” Tanyaku gugup.
“Oh ya tentu, kenapa tidak?” Jawab perempuan itu.
“Wih, bacanya fisika.” Tanyaku menggoda.
“Iya nih, pr fisika lagi banyak. Mau gak mau harus baca ini.
Kamu juga bacanya tentang cinta, cie”
Perempuan itu ternyata ramah.
“Kamu Indira adiknya Jasmine bukan?”
“Iya kak Tama,” Indira menjawab sambil tersenyum. Di saat
itu, aku merasakan seperti ada sesuatu yang meyakinkanku bahwa Indira memang
ada ketertarikan dengaku. Cuma, dia menunggu lelaki yang menyatakan cintanya
duluan. Kusudahi obrolan, lalu masing-masing fokus membaca.
……………………
KRINGGG!!!
“Cie tadi ada yang duduk sama Indira” Jasmine menggodaku
nakal.
“Ih apaan sih, emang kebetulan aja.”
“Bentar lagi juga jadian. Iya gak say?” Galuh pun
ikut-ikutan.
“Iya. Tapi sih aku gak setuju kalau Indira sama Tama beneran
jadian, Aku kan kakaknya.” Jasmine memasang muka cemberut.
“Yah Jasmine, jangan dong.” Aku memelas.
“Tuh kan Tama suka, iya iya Jasmine Restuin.” Jasmine
tertawa kecil.
Sepanjang sekolah, aku tidak henti-hentinya memikirkan
Indira. Gadis sunda itu rupanya telah memikat hati lelaki culun ini. Rambutnya
yang indah sebahu, tampak dijaga dengan baik. Tubuhnya yang proporsional, sama
seperti kakaknya. Oh pantas banyak yang tertarik dengannya.
Pulang sekolah tiba, kita bertiga langsung menuju parkiran
motor. Jasmine akan pulang bersama Galuh, dan aku dengan kesendirianku. Saat
menuju tempat itulah, tiba-tiba aku melihat Indira sedang kebingungan.
“Indira, ada apa? Kok terlihat bingung?” Tanyaku heran.
“Ini kak, Indira gak dijemput sama ojek. Indira bingung mau
naik apa. Angkot jauh banget dari sini. Belum lagi kalau ada apa-apa di jalan.”
Indira gelisah
“loh, kan ada Jasmine?”
“Kak Jasmine sama Galuh, masa iya Indira ganggu?”
Suatu ide muncul di pikiranku. Berhubung aku juga membawa
motor vespa tua, kenapa tidak ku antar sekalian Indira ke rumahnya? Sampai di
rumahnya, aku langsung menyatakan cinta ke dia. Tapi, takut gagal. Ah dasar
lelaki culun.
“Kak Tama bawa motor kan? Boleh nebeng gak?” Indira memelas.
Mukanya terlihat lugu saat dia berekspresi layaknya anak kecil meminta es krim
kepada ibunya.
“oh, emm…. Boleh deh. Nanti arahin ya” Jawabku tersenyum.
Dalam hatiku, aku tak perlu menawarkan motor vespa itu. Justru dia yang
bertanya. Aku pun juga langsung mempersiapkan langkah berikutnya untuk mengajak
dia.., pacaran.
Motor segera ku keluarkan. Tampak Jasmine dan Galuh sudah
pergi dari sana. Mungkin mereka terlalu sibuk sehigga aku tak melihat mereka
keluar dari gerbang. Tak berselang, Indira sudah ada di belakang. Tak lupa
kuberikan helm kepadanya, supaya aman. Kita pun segera melaju ke rumahnya di
daerah Kemang.
30 menit perjalanan, ditambah macetnya Ibukota. Akhirnya
sampai juga di rumahnya Indira (dan Jasmine tentunya). Aku melihat komplek
kakak beradik itu memang sangat sepi. Rumahnya pun tidak terlalu besar, namun
cukup untuk keluarga kecil. Hanya tampak motor Galuh yang terparkir di
garasinya.
“Makasih ya kak, udah nganterin Indira.”
“Sama-sama. Kakak boleh ngomong sesuatu ke Indira? Jangan
marah ya.”
“Apa kak?”
“Indira mau jadi pacar Tama yang culun ini gak?”
Indira sejenak terdiam. Mukanya terlihat kesal. Aku jadi
pesimis cintaku akan diterima olehnya.
“Maaf kak, aku tidak bisa.” Jawab Indira datar.
“Oh iya, jangan dipaksa ya.” Kataku bergetar lalu lekas
berkemas untuk pergi.
“Tunggu kak, eh Tam. Maksud Indira.. tidak bisa menolak.”
Indira tersenyum senang.
Pada saat itu aku merasakan kejantanan seorang Tama sedang
keluar. Bumi ini serasa hanya milik kita berdua yang baru saja tumbuh cintanya.
Oh, senang sekali akhirnya aku dapatkan Indira.
“Cieee ada yang baru jadian, Indira ayo pulang. Siapa itu
lelaki yang mengantarkanmu?” Jasmine muncul dari pintu garasi. Rupanya ia
membuntuti kami.
“Ehm, Galuh seneng deh. Ehm ehm.” Sahut Galuh setelahnya.
Indira tersipu malu, lalu berkata,
“Yaudah, Indira masuk dulu ya. I Love You.”
Beginikah cinta? Dapat membuat kita terbang kapan saja?
Indahnya cinta.
“I Love You too Indira, bbm nanti sore ya.” Jawabku dengan
perasaan berbunga-bunga.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari hp. Setelah itu,
berusaha mengontak Indira. Tidak ada jawaban darinya. Kucoba menghubunginya
lewat bbm. Terkirim, Cuma tidak dibaca.
“Mungkin Indira sedang belajar.” Pikirku. Rajin juga anak
ini.
…………………
Keesokan harinya, seperti biasa setengah enam aku sudah tiba
di sekolah. Dibandingkan kemarin, jujur hari ini aku lebih berdandan. Mungkin
gejala demam pubertas-ingin terlihat berbeda di mata pacarnya-.
05.50. Jasmine dan Galuh datang bersamaan. Kali ini tidak
ada seucap kata pun dari mereka. Mungkin mereka hanya membutuhkanku disaat ada
pr saja, ah tidak juga.
“Pagi Luh, Min, Indira udah datang belom?” Tanyaku sambil
merapihkan rambut.
“Indira? Coba cek sendiri deh.” Kata Jasmine datar. Lalu aku
bergegas ke lantai satu, kelas Indira.
“Misi, nif. Ada Indira?” Tanyaku penasaran.
“belum datang. Ada apa nyariin Indira?” Jawab Hanif sinis.
“Oh tidak, ada perlu aja.”
Aku bingung dengan hari ini, kenapa semua orang terlihat
jaim padaku? Apa yang salah?
………………………………………………….
Sepulang sekolah, seperti biasa kami bertiga langsung menuju
parkiran. Aku menunggu Indira, setelah Galuh dan Jasmine pulang. 30 menit
berlalu, tak ada tanda-tanda gadis itu akan datang. Kucoba untuk menelpon,
tetapi tidak diangkat. Maka kuputuskan untuk langsung menuju rumahnya, karena
hari ini ada film yang cukup menarik, sehingga aku berpikir untuk mengajak
Indira pergi.
Sesampainya di rumah Indira, masih sama seperti suasana
kemarin -sepi dan ada dua motor-. Dua? Bukannya cuma ada Galuh di rumah?
Setahuku, orangtua Jasmine dan Indira sedang ikut symposium. Dengan perasaan
bingung, aku mencoba masuk.
Baru sampai depan pagar, tiba-tiba Indira keluar. Ia
mengenakan baju yang sangat rapih. Dan tepat dibelakangnya, ada seorang lelaki
yang kupikir seusia. Itu, hanif. Ada apa hanif ke sini?
“Loh Tama, ngapain ke sini?” tanya Indira berkeringat.
“Tama mau mengajak Indira nonton, Hanif ngapain di sini ya?”
Tanyaku polos.
“kak Tama yang ngapain di sini! Hanif mau pergi sama Indira!”
Sela Hanif sinis.
Aku sejenak diam. Hati ini terasa dikhianati. Baru kemarin
aku merasakan indahnya cinta, sekarang malah dipermainkan seperti ini.
“Maa… Maaf Kak Tama. Sebenernya, aku sudah memiliki Hanif.
Cuma, kemarin itu aku tidak enak hati dengan kakak. Maksudnya, kakak memang
tampan. Cuma….. Aduh maaf ya kak.” Indira beralasan dengan wajah tertunduk.
“Kenapa gak bilang dari kemarin? Kakak akan mengerti kalau
kamu jujur. Itu lebih baik daripada harus seperti ini.” Aku berkata dengan
suara setengah hati, lalu bergegas pergi keluar.
“Sekarang udah tau kan ceritanya? Pergi lo tama! Ayo sayang
kita jalan.” Hanif berteriak, lalu bergegas menggandeng Indira menuju motor
Ninja-nya.
Semenjak saat itu, aku jadi mengerti bahwa Cintanya Indira
hanya settingan antara Galuh dengan Jasmine. Mereka melakukan itu hanya demi
melihat sahabatnya itu tersenyum bahagia. Dengan cara seperti ini, mana mungkin
aku bisa tersenyum. Hanya membuang waktuku saja.
Seminggu kemudian, aku mulai menikmati kesendirianku lagi. Tak
ada Indira, tak ada siapapun. Jasmine dan Galuh juga mulai kembali akrab
denganku. Walaupun aku mendengar bahwa ada banyak murid seusia Indira yang
jatuh cinta denganku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan indahnya
cinta, saat aku sudah siap merasakannya.
No comments:
Post a Comment