Saturday, May 10, 2014

Firasat terakhir si Manis


Minggu, 25 Februari 2014. Seperti biasa, setelah sholat shubuh, Iken langsung membuat sarapan untuk kucingnya. Ia memang menyukai binatang berbulu itu. Baginya, mereka sudah seperti adik sendiri, di mana ia bisa memanggil kapan saja saat dibutuhkan.
“Menu hari ini, pindang kucing. Hmm, pasti suka.” Gumam Iken dalam hati.
Setelah semua siap, Iken segera bergegas keluar. Aroma ikan segar langsung tercium ketika ia melewati dapur. Lima ekor kucing sudah siap melahap santapan itu. Bulu berwarna coklat dilapisi putih es krim menghiasi tubuh mereka.
“Ini makanan buat kalian, habiskan ya.” Sahut Iken seraya meletakkan piring-piring mungil di atas aspal jalan.
06.30. Iken telah selesai berkemas, dan bersiap untuk pergi ke kampus. Pakaiannya rapih seperti anak pejabat, berwangikan parfum rosemary. Tak lupa sebelum ia pergi, ia pamit kepada orang tuanya.
“Ma, pa, pergi dulu ya.” Iken berlalu menyalami kedua orang tuanya
“Iya, hati-hati ya.” Sahut Mama Iken.
Iken pergi ke kampus dengan jalan kaki. Itu dikarenakan letaknya tak terlalu jauh dari rumah, tepat belok kiri dari komplek. Ketika ia hendak membuka pagar, tiba-tiba seekor kucing mendekati dirinya, seraya menjatuhkan dirinya seperti ingin dimanja. Sontak Iken tersenyum, dan berkata,
“Manis, Iken mau ke kampus dulu ya. Permisi”
Kucing itu tetap tidak mau pergi. Digulingkannya badan ke kanan dan ke kiri untuk mencari perhatian kepada sang majikan, gegas berlari dan kembali menidurkan dirinya tepat di kaki Iken.
“Manis, udah dong bercandanya. Nanti telat nih.” Iken sudah mulai emosi.
Sepanjang perjalanan, kucing kuning itu mengikuti Iken kemanapun ia pergi. Wajahnya yang lugu namun terlihat serius mengisyaratkan Iken agar tidak pergi.
“Duh, Manis! Balik ke rumah. Nanti kamu tersesat!” Iken membentak kepada kucing itu, lalu segera menggendongnya menuju ke arah yang benar.
Sang kucing sejenak terdiam. Namun dirinya tak habis akal, ia berlari memanjati pohon, dan mengeong lah ia. Iken tak menghiraukan eongan si Manis itu. Dirinya tetap konsen menuju ke kampus.
Manis, segera berlari kembali menuju Iken. Sontak gadis itu terkejut, dan membentak,
“kembali!” Iken menendang perut si Manis sekencang ia bisa.
Manis terdiam. Mukanya ditundukkan ke bawah, seperti menahan sakit. Iken melihat sekilas, lantas pergi meninggalkan kucingnya yang malang. Sekarang, sudah 500 meter jauhnya Manis meninggalkan wilayah rimbanya.
Sesampainya di kampus, Iken segera membuka buku mata kuliahnya. Sambil menghitung lembaran demi lembaran kertas yang tanpa jelas tujuannya. Pikirannya tertuju pada si Manis, kenapa hari ini ia ingin sekali pemiliknya berada di dekat dirinya, padahal seperti biasa, jika segerombolan kucing itu telah kenyang, mereka akan membubarkan diri dan melaksanakan dinas kekucingannya masing-masing.
Pikiran si Manis perlahan menghilang setelah teman-teman sekelas Iken datang satu per satu. Terutama Layla, sahabat karibnya sejak SMA. Ia tak sabar, siapa lagi yang akan digosipkannya kali ini.
“Pagi Iken, tumben bawa tas berat banget” Sapa Kayla datar.
“Pagi juga La, iya. Lu tau sendiri kan hari ini mata kuliahnya siapa? Iya Pak Hendro. Masa iya tangan gua dipukul pake laptop lagi, gara-gara lks ketinggalan?” Jawab Iken serius.
“Gitu aja dianggap serius, Ken. By the way, pulang kuliah ada acara gak? Kita nonton yuk. Ada referensi film bagus hari ini, sekalian cari cogan.” Kayla meledek Iken, yang sampai sekarang belum mau pacaran.
“Boleh deh, gua juga lagi bawa banyak duit.” Iken menanggapi ajakan Kayla.
Waktu berlalu begitu cepat, sehingga tak terasa sudah menuju pukul 12.00. Setelah selesai kuliah, kedua gadis itu segera menuju parkiran, lantas pergi meninggalkan ingupnya dunia kampus. Ketika di perjalanan, Iken seolah teringat kembali dengan kejadian yang ia alami tadi pagi. Ya, kejadian si Manis. Tapi segera dilupakannya, karena jika tidak dilupakan, akan menjadi beban.
“Kita parkir di sini aja ya, tuh bioskopnya.” Sambil menunjuk salah satu tempat parkir, yang letaknya tak jauh dari pintu masuk mall, tepat depan bioskop, di lantai empat.
Selama di bioskop, mereka tertawa senang. Tak ada pikiran kampus, tak ada juga pikiran pr yang menghantui hidup mahasiswi ini. Mereka tampak menikmati hari itu, tentunya diselingi godaan demi godaan si Kayla kepada bayak cowok yang mampir di pandangan kedua gadis itu.
“Have fun banget, ya Ken. Tadi ada satu cowok yang pas gua godain, dia langsung kabur gitu. Lu piker gua setan apa?” Gelutuk Kayla sambil mengerutkan wajahnya.
“Ia, tadi juga ada cowok yang mandangin gua terus. Jadi khawatir disantet.” Canda Iken.
Sekaleng soda menemani perjalanan pulang Iken dan Kayla. Tak lupa, mereka saling tertawa mengingat reaksi kaum adam ketika mereka godai. Tak terasa sudah sampai di depan gang rumah Iken, sehingga ia lantas berpamitan pada Kayla.
“Makasih ya La, seneng banget gua hari ini.”
“iya sama-sama, awas kena santet” Tawa kayla.
Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang satu sama lain, agaknya Iken pulang sangat larut dari biasanya. Ia khawatir orangtuanya akan mengucinya di depan rumah seperti tahun lalu, maka segeralah diambilnya handphone dari tas.
“Loh, mama nelpon lima kali tak terjawab, papa juga. Ada apa?” Iken terlihat cemas. Tubuhnya lesu. Ia segera berlari cepat menuju rumahnya. Tepat di depan rumah, sebuah darah tampak melingkar abstrak di aspal -tampak masih segar.- Ia melewati kucing-kucing, yang mukanya agak lebih muram dibandingkan tadi pagi. Bahkan, Pindang ikan yang diberikan ibu Iken pun tak dimakan, tetap utuh.
“Ada apa ma?” Tanya Iken cemas.
“Iken darimana? Ibu ingin memberitahukanmu sesuatu,” Jawab Mama Iken.
“Ya, ceritakan.” Sabar Iken.
“kamu tau manis? Dia baru saja tertabrak mobil pak Ruslan.” Ibu Iken tertunduk sedih.
“Iya apa? Lalu bagaimana dia sekarang?” Iken semakin khawatir.
“Pak Ruslan telah baik kepada Manis, dia dipinggirkan ke tepi jalan, lalu melapor pada Bapak. Sekarang Manis ada di samping ayunan. Tengoklah, siapa tau dia masih hidup.
Iken segera berlari menuju Manis. Terlihat di samping ayunan, Manis tergeletak lemas. Darah bercuruan dari balik kepalanya yang manis. Namun, ia  masih terlihat hidup.
“Manis, kamu kenapa? Ayo kita ke dokter hewan.” Iken menangis. Dibalutkannya si Manis yang telah tergerai lemas dengan kassa, berharap ada kesempatan untuk melihatnya satu kali lagi.
Di tempat dokter hewan, tepat di seberang jalan, Iken segera berlari menghadap sang dokter. Tampak pengendara lainnya seakan mengerti keadaan Iken saat itu ketika ia akan menyebrang. Bahkan warga pun turut bersimpati pada gadis teledor itu.
“Dokter, tolong kucing saya. Dia baru saja terlindas mobil.” Sahut Iken menjerit.
“Ya ampun, ayo letakkan di kasur ini.” Dokter menunjuk kasur di sebelahnya. Tanpa pikir panjang, Iken segera melaksanakan apa perintah dokter.
Dokter memeriksa satu persatu tubuh Manis dengan perlahan, takut sesuatu terjadi. Tampak dengan jelas tulang kucing itu sudah menembus kulitnya, namun jantungnya masih berfungsi, meski tak akan lama.
“Kamu majikan yang baik. Tepat sekali kamu bawa kucing ini kesini.”
“Apa yang terjadi dokter?” Iken mengelap tangisnya dengan handuk kecil.
“Kucingmu Nampak sangat bahagia mempunyai majikan seperti dik Iken. Saya tau, tadi pagi ketika kamu akan pergi ke sekolah, kucing itu dengan setia menemanimu sampai ujung gapura, tapi kamu malah menendangnya. Mungkin itu firasat terakhir untukmu, bahwa jangan meninggalkan dirinya untuk yang terakhir kalinya. Tapi kamu tak menggubris firasat itu. Pergi ke ruang saya sekarang, dan mintalah maaf kepadanya untuk yang terakhir.”
Iken segera berlari menuju ruang praktek. Ia melihat Manis untuk sekali lagi terbaring lemah, dan semakin lemah. Lukanya kian menjadi, dan seketika kasur hitam itu pun berubah menjadi lautan darah.
“Manis, kau masih bisa melihatku? Aku minta maaf karena telah lalai dalam mengikuti firasatmu. Sampai sampai aku harus menendangmu dengan keras. Aku tau, itu sakit bagimu. Tapi kamu tak menunjukkan kesakitanmu dan tetap tersenyum dengan kumismu yang indah. Maafkan aku manis, aku berjanji akan merawat saudaramu yang lain sama seperti aku merawatmu dengan kasih sayang. Jikalau kamu mengerti apa yang aku ucapkan, tapi itu nampaknya mustahil.”
Iken menangis sejadi-jadinya, seakan air matanya akan dihabiskan saat itu juga. Tak lama berselang, Manis melongok ke Iken, dan dengan senyumnya yang manis, ia mengeong, Dan itu adalah eongan terakhirnya sebelum ia menutup mata, dan pergi meninggalkan Iken. Gadis itu tak kuasa menahan tangis, pada akhirnya ia menyerah dan mundur.
“Kami akan mengurus jasadnya, pergilah pulang Iken. Sering seringlah menengok kucingmu di sini.
Semenjak saat itu, Iken menjadi lebih sayang dengan kucingnya. Ia bahkan rela meninggalkan Kayla dengan keglamouran hidupnya, hanya untuk memberi perhatian penuh kepada sang kucing. Semua mahluk memang diciptakan untuk hidup dan saling menyayangi, tak terkecuali dengan Iken dan keempat kucingnya, sekarang.

Friday, May 9, 2014

Ketika Karier Mencintaiku

“Halo, ada orang?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku, tepat di depan pintu kelas
“Ada, masuk aja.”
“eh Tama sudah datang. Kebetulan…”
Oh, Jasmine rupanya. Dia adalah teman sekelasku. Teman seperjuangan yang tidak mau ambil pusing. Kalau kata orang, gadis itu ibarat tong isi nyaring bunyinya. Tapi, isiannya itu bukan murni isian sendiri, tetapi isian orang lain yang ‘tidak sengaja’ tumpah ke dalam tong nya.
Perkenalkan, Namaku Tam Ehira Mahatma. Panggilan akrabnya Tam, bisa juga dipanggil ucok. Sekarang sedang mengenyam pendidikan di salah satu SMAN di Jakarta Selatan, kelas 2. Hari ini pr sedang tidak terlalu banyak menumpuk, Cuma fisika. Namun, kita disuruh mengerjakan 2 halaman sekaligus, yang sudah pasti tidak diajarkan saat SMP dulu. Bukan bermaksud menakuti, Cuma inilah yang terjadi jika masuk ke sekolah favorit. Kita dituntut untuk serba mandiri.
Jasmine Rukita, adalah temanku sejak menginjak bangku TK. Ia selalu membuntutiku kemana pun aku pergi. Cuma, akhir akhir ini dia agak sedikit menjauh semenjak diajak candle-light-dinner dari kekasihnya seminggu yang lalu. Aku mengerti, supaya kita tidak ada rasa cemburu satu sama lain. Mengingat, kekasihnya itu adalah Galuh, sahabatku juga.
“Kebetulan kenapa ya?” Aku bertanya ditengah kantuk pagi yang menyerang.
“Jasmine nyontek fisikanya ya, plis… sekali aja.” Jasmine memelas.
“sekali? Udah lima kali kamu bilang kata ’sekali aja’. Dasar pemalas.”
“Ya Jasmine ngerti otak jasmine gak sepintar Tama. Plis ya?”
“Yaudah”.
Setelah perdebatan yang cukup merumitkan itu, dan setelah akhirnya hati ini kembali luluh, seketika itu juga Galuh datang dengan semangat. Entah apa yang ada dipikirannya.
“pagi Jasmine, pagi Tam. Gua boleh…..” Galuh menyapa.
“Nyontek kan? Bukunya ada di Jasmine. Berdua aja sana ngerjainnya.” Jawabku sekenanya.
5 menit berselang, Galuh kembali ke meja disampingku, lalu bertanya,
“Tam, lu masih single? Ya ampun. Apa hidup lu gak hampa?”
“Hampa? Enggak kayanya. Kenapa?”
“Ya, semua mahluk hidup itu hidup berpasangan. Setidaknya pasangan kita bisa dijadikan motivasi. Apa iya lu masih mau single sampai kuliah?”.
Apa yang dikatakan Galuh ada benarnya juga. Akhir-akhir ini aku memang sedang merasakan yang namanya pubertas-dimana seseorang memiliki ketertarikan dengan perempuan-. Masalahnya sekarang adalah, mana ada yang mau.
“Ya sih luh, Cuma.. Apa ada yang mau sama aku? Tampangku culun begini.”
“Culun darimana? Muka lu tuh unique. Ganteng, brewokan lagi. Lu tau adiknya Jasmine? Dia juga lagi single soalnya.”
“Ohh, Indira? Trus kalo dia single kenapa?”
“Siapa tau itu jodoh lu.”
Tak terasa obrolan panjangku dengan Galuh, sehingga bel pun telah berbunyi. Semua siswa telah masuk kelas, dan siap belajar. Namun, berbeda denganku. Aku masih memikirkan kata yang diucapkan Galuh, apalagi ia membicarakan Indira. Gadis kelas 10-A yang menjadi primadona di SMA kami. Kembang SMA istilahnya.
……………………………………………………..
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30. Bel pun sudah berkumandang tanda istirahat. Aku, Galuh, dan Jasmine langsung keluar menuju selasar. Tak lupa, membawa kartu pengunjung perpustakaan. Ya, kebiasaan kami memang selalu membaca. Ini sudah dilakukan bahkan ketika kita belum saling kenal sekalipun.
“Yah luh, penuh. Kita duduk dimana ya?” Tanya Jasmine ketika sudah sampai di depan pintu.
“Itu ada dua yang kosong. Gua sama Jasime duduk di sana ya, Galuh cari sendiri” Balas Galuh dengan licik. Dasar…
Buku segera kami pilih. Jasmine memilih buku Layar Terkembang, Galuh mengambil buku tentang olahraga, dan aku mencari di mana letak buku tentang cinta.
“Akhirnya ketemu juga” Sahutku. Judul bukunya yaitu, ‘Cinta atau Karier?’
Lama aku menunggu murid lain yang selesai membaca, dan akhirnya dapat juga gilirannya. Letaknya tepat di sudut perpustakaan, dan ditemani oleh seorang perempuan yang amatlah menawan. Dan itu pasti, Indira.
“Permisi, boleh duduk di sini? Aku lihat bangku yang lain penuh.” Tanyaku gugup.
“Oh ya tentu, kenapa tidak?” Jawab perempuan itu.
“Wih, bacanya fisika.” Tanyaku menggoda.
“Iya nih, pr fisika lagi banyak. Mau gak mau harus baca ini. Kamu juga bacanya tentang cinta, cie”
Perempuan itu ternyata ramah.
“Kamu Indira adiknya Jasmine bukan?”
“Iya kak Tama,” Indira menjawab sambil tersenyum. Di saat itu, aku merasakan seperti ada sesuatu yang meyakinkanku bahwa Indira memang ada ketertarikan dengaku. Cuma, dia menunggu lelaki yang menyatakan cintanya duluan. Kusudahi obrolan, lalu masing-masing fokus membaca.
……………………
KRINGGG!!!
“Cie tadi ada yang duduk sama Indira” Jasmine menggodaku nakal.
“Ih apaan sih, emang kebetulan aja.”
“Bentar lagi juga jadian. Iya gak say?” Galuh pun ikut-ikutan.
“Iya. Tapi sih aku gak setuju kalau Indira sama Tama beneran jadian, Aku kan kakaknya.” Jasmine memasang muka cemberut.
“Yah Jasmine, jangan dong.” Aku memelas.
“Tuh kan Tama suka, iya iya Jasmine Restuin.” Jasmine tertawa kecil.
Sepanjang sekolah, aku tidak henti-hentinya memikirkan Indira. Gadis sunda itu rupanya telah memikat hati lelaki culun ini. Rambutnya yang indah sebahu, tampak dijaga dengan baik. Tubuhnya yang proporsional, sama seperti kakaknya. Oh pantas banyak yang tertarik dengannya.
Pulang sekolah tiba, kita bertiga langsung menuju parkiran motor. Jasmine akan pulang bersama Galuh, dan aku dengan kesendirianku. Saat menuju tempat itulah, tiba-tiba aku melihat Indira sedang kebingungan.
“Indira, ada apa? Kok terlihat bingung?” Tanyaku heran.
“Ini kak, Indira gak dijemput sama ojek. Indira bingung mau naik apa. Angkot jauh banget dari sini. Belum lagi kalau ada apa-apa di jalan.” Indira gelisah
“loh, kan ada Jasmine?”
“Kak Jasmine sama Galuh, masa iya Indira ganggu?”
Suatu ide muncul di pikiranku. Berhubung aku juga membawa motor vespa tua, kenapa tidak ku antar sekalian Indira ke rumahnya? Sampai di rumahnya, aku langsung menyatakan cinta ke dia. Tapi, takut gagal. Ah dasar lelaki culun.
“Kak Tama bawa motor kan? Boleh nebeng gak?” Indira memelas. Mukanya terlihat lugu saat dia berekspresi layaknya anak kecil meminta es krim kepada ibunya.
“oh, emm…. Boleh deh. Nanti arahin ya” Jawabku tersenyum. Dalam hatiku, aku tak perlu menawarkan motor vespa itu. Justru dia yang bertanya. Aku pun juga langsung mempersiapkan langkah berikutnya untuk mengajak dia.., pacaran.
Motor segera ku keluarkan. Tampak Jasmine dan Galuh sudah pergi dari sana. Mungkin mereka terlalu sibuk sehigga aku tak melihat mereka keluar dari gerbang. Tak berselang, Indira sudah ada di belakang. Tak lupa kuberikan helm kepadanya, supaya aman. Kita pun segera melaju ke rumahnya di daerah Kemang.
30 menit perjalanan, ditambah macetnya Ibukota. Akhirnya sampai juga di rumahnya Indira (dan Jasmine tentunya). Aku melihat komplek kakak beradik itu memang sangat sepi. Rumahnya pun tidak terlalu besar, namun cukup untuk keluarga kecil. Hanya tampak motor Galuh yang terparkir di garasinya.
“Makasih ya kak, udah nganterin Indira.”
“Sama-sama. Kakak boleh ngomong sesuatu ke Indira? Jangan marah ya.”
“Apa kak?”
“Indira mau jadi pacar Tama yang culun ini gak?”
Indira sejenak terdiam. Mukanya terlihat kesal. Aku jadi pesimis cintaku akan diterima olehnya.
“Maaf kak, aku tidak bisa.” Jawab Indira datar.
“Oh iya, jangan dipaksa ya.” Kataku bergetar lalu lekas berkemas untuk pergi.
“Tunggu kak, eh Tam. Maksud Indira.. tidak bisa menolak.” Indira tersenyum senang.
Pada saat itu aku merasakan kejantanan seorang Tama sedang keluar. Bumi ini serasa hanya milik kita berdua yang baru saja tumbuh cintanya. Oh, senang sekali akhirnya aku dapatkan Indira.
“Cieee ada yang baru jadian, Indira ayo pulang. Siapa itu lelaki yang mengantarkanmu?” Jasmine muncul dari pintu garasi. Rupanya ia membuntuti kami.
“Ehm, Galuh seneng deh. Ehm ehm.” Sahut Galuh setelahnya.
Indira tersipu malu, lalu berkata,
“Yaudah, Indira masuk dulu ya. I Love You.”
Beginikah cinta? Dapat membuat kita terbang kapan saja? Indahnya cinta.
“I Love You too Indira, bbm nanti sore ya.” Jawabku dengan perasaan berbunga-bunga.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari hp. Setelah itu, berusaha mengontak Indira. Tidak ada jawaban darinya. Kucoba menghubunginya lewat bbm. Terkirim, Cuma tidak dibaca.
“Mungkin Indira sedang belajar.” Pikirku. Rajin juga anak ini.
…………………
Keesokan harinya, seperti biasa setengah enam aku sudah tiba di sekolah. Dibandingkan kemarin, jujur hari ini aku lebih berdandan. Mungkin gejala demam pubertas-ingin terlihat berbeda di mata pacarnya-.
05.50. Jasmine dan Galuh datang bersamaan. Kali ini tidak ada seucap kata pun dari mereka. Mungkin mereka hanya membutuhkanku disaat ada pr saja, ah tidak juga.
“Pagi Luh, Min, Indira udah datang belom?” Tanyaku sambil merapihkan rambut.
“Indira? Coba cek sendiri deh.” Kata Jasmine datar. Lalu aku bergegas ke lantai satu, kelas Indira.
“Misi, nif. Ada Indira?” Tanyaku penasaran.
“belum datang. Ada apa nyariin Indira?” Jawab Hanif sinis.
“Oh tidak, ada perlu aja.”
Aku bingung dengan hari ini, kenapa semua orang terlihat jaim padaku? Apa yang salah?
………………………………………………….
Sepulang sekolah, seperti biasa kami bertiga langsung menuju parkiran. Aku menunggu Indira, setelah Galuh dan Jasmine pulang. 30 menit berlalu, tak ada tanda-tanda gadis itu akan datang. Kucoba untuk menelpon, tetapi tidak diangkat. Maka kuputuskan untuk langsung menuju rumahnya, karena hari ini ada film yang cukup menarik, sehingga aku berpikir untuk mengajak Indira pergi.
Sesampainya di rumah Indira, masih sama seperti suasana kemarin -sepi dan ada dua motor-. Dua? Bukannya cuma ada Galuh di rumah? Setahuku, orangtua Jasmine dan Indira sedang ikut symposium. Dengan perasaan bingung, aku mencoba masuk.
Baru sampai depan pagar, tiba-tiba Indira keluar. Ia mengenakan baju yang sangat rapih. Dan tepat dibelakangnya, ada seorang lelaki yang kupikir seusia. Itu, hanif. Ada apa hanif ke sini?
“Loh Tama, ngapain ke sini?” tanya Indira berkeringat.
“Tama mau mengajak Indira nonton, Hanif ngapain di sini ya?” Tanyaku polos.
“kak Tama yang ngapain di sini! Hanif mau pergi sama Indira!” Sela Hanif sinis.
Aku sejenak diam. Hati ini terasa dikhianati. Baru kemarin aku merasakan indahnya cinta, sekarang malah dipermainkan seperti ini.
“Maa… Maaf Kak Tama. Sebenernya, aku sudah memiliki Hanif. Cuma, kemarin itu aku tidak enak hati dengan kakak. Maksudnya, kakak memang tampan. Cuma….. Aduh maaf ya kak.” Indira beralasan dengan wajah tertunduk.
“Kenapa gak bilang dari kemarin? Kakak akan mengerti kalau kamu jujur. Itu lebih baik daripada harus seperti ini.” Aku berkata dengan suara setengah hati, lalu bergegas pergi keluar.
“Sekarang udah tau kan ceritanya? Pergi lo tama! Ayo sayang kita jalan.” Hanif berteriak, lalu bergegas menggandeng Indira menuju motor Ninja-nya.
Semenjak saat itu, aku jadi mengerti bahwa Cintanya Indira hanya settingan antara Galuh dengan Jasmine. Mereka melakukan itu hanya demi melihat sahabatnya itu tersenyum bahagia. Dengan cara seperti ini, mana mungkin aku bisa tersenyum. Hanya membuang waktuku saja.
Seminggu kemudian, aku mulai menikmati kesendirianku lagi. Tak ada Indira, tak ada siapapun. Jasmine dan Galuh juga mulai kembali akrab denganku. Walaupun aku mendengar bahwa ada banyak murid seusia Indira yang jatuh cinta denganku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan indahnya cinta, saat aku sudah siap merasakannya.



Wednesday, February 26, 2014

hari ini mimin disuruh guru komputer copas apapun dari internet. Karena mimin suka lagunya Let It Go, maka mari kita posting liriknya.

Let it go, let it goCan't hold it back anymore
 Let it go, let it goTurn my back and slam the door
The snow glows white on the mountain tonight,Not a footprint to be seen.A kingdom of isolation and it looks like I'm the queen.The wind is howling like the swirling storm inside.Couldn't keep it in, heaven knows I tried.
Don't let them in, don't let them see,be the good girl you always had to be.Conceal, don't feel, don't let them know.Well now they know.
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway
It's funny how some distance makes everything seem smallAnd the fuse that once controlled me, can't get to me at all.Up in here in the cold wind air, I finally can breathe.I know I left a life behind, but I'm too relieved to grieve.
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand, and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway
(Standing, frozen, in the life I've chosen you will find methe past is well behind me, buried in the snow)
Let it go, let it goCan't hold it back anymoreLet it go, let it goTurn my back and slam the doorAnd here I stand, and here I'll stayLet it go, let it goThe cold never bothered me anyway, woah(na na, na na, na na na na) [x4]Na, na, you said, let it go, let it go, ooooLet it go

copied from : Kapanlagi.com
 

Saturday, February 1, 2014

first posting

Ehm. Gimana gua mulainya ya?

Oh iya, gini aja.

Untuk first posting hari ini, gue mau ngenalin diri dulu.

let's check this out

Nama gue, Tam Ehira Mahatma. Ini nama inisial pastinya. Disini gue akan berperan sebagai tokoh utama yang absolutely akan selalu menjadi korban si author. Umur gue, 11 tahun. Sekolah dibilangan Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan. Hobi gue, makan sama nyari WiFi gratis. Keluarga gue, ya standar lah. Bokap, nyokap, adek satu. Gak terlalu loyal amat, cukup lah buat hidup sehari-hari. Aktifitas gue sekarang, ngejalanin hidup sebagai anggota Pramuka Inti regu Rubah Hitam (regu samaran). Nah, ini dia yang bakal gua ulasa di next posting. Well, segitu dulu ya. Kalo ada pertanyaan, bisa follow si author @fauziseta. See you at next post.

Brosist, Tam.

Merdeka!!