"Pukul 7"
Pukul 7 di pagi hari.
Tya sudah berada di depan pintu kost-ku saat aku baru saja menggosok mata. Wajahnya yang imut, membuat hari ini terasa tidak ingin cepat berlalu. Sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi, kami ditugaskan untuk mempresentasikan apapun yang berkaitan dengan Indikator pembelajaran bersama para direktur dari berbagai perusahaan Internasional. Dan, di sinilah kami sekarang. Tahap paling angker menurut para senior, bahkan satpam sekalipun.
Gaya hubungan kami memang berbeda dengan pasangan pada umumnya. Hura-hura, menghabiskan uang pemberian orang tua sementara mereka lelah peluh keringatnya mencari bank mana lagi yang akan mereka hutangi. Life is easy, kalau susah dijalankan bersama, nanti kita juga akan mendapatkan bahagia juga bersama. Percaya atau tidak, dalam sehari kami hanya menghabiskan waktu untuk beradu argumen konyol. So, untuk pasangan muda, masih enggan berubah?
"Ayo Tam, katanya mau ambil nomor urut pertama supaya punya waktu sama aku? C'mon, Aku aja udah keterima di perusahaan tambang, besok mulai magang. Kalah lagi deh sama perempuan" Celetuk Tya, kalian mungkin tidak akan betah dengan bawelnya.
"Sabar ya, Nyonya Tya Amarum Pratama. Tuanmu sedang ganti baju". Jawabku. Kita tertawa bersama.
----------------
Satu jam sebelum presentasi, dan Alhamdulillah aku mendapat nomor panggil 2. Angka keramat itu terletak setelah satu, atau sebelum tiga. Dan, entah kenapa kami merasa sangat beruntung. Menurut pengalaman Tya, Direktur-direktur itu akan memberi nilai pas-pasan pada urutan terakhir. Faktor kelelahan, dan faktor kesibukan adalah sebab dari akibat.
...Panggilan peserta bernama Pratama, ke ruang ekonomi 1 sekarang...
Baiklah, ini giliranku.
"Assalamualaikum Bapak dan Ibu dosen yang saya hormati, jajaran direktur yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, serta para hadirin yang berbahagia". Aku membuka presentasi.
"Pada kesempatan kali ini, saya akan mempresentasikan materi tentang perkembangan Investasi berbasis Dollar, dan kiat untuk menaikkan mata uang negara kita". Seru ku penuh semangat.
Selama presentasi, aku merasa banyak yang terkesima dan memberikan antusias mereka. Seorang wanita mengenakan blouse putih dan rok hitam seperti sekretaris perusahaan Tambang mengintipku dari jendela. Tya menepati janjinya yang ingin melihatku walau dari balik kaca bertralis abu-abu. Ia tertawa kecil ketika melihat slide akhir yang bertuliskan 'I Love You Mr. Pratama, From Tya Amarum Pratama' dan saat aku dicecar pertanyaan siapa yang menulis tulisan senekad itu. Ya, aku suka dengan intrik wanita ini. She's pretty romantic.
---------------
Pukul 7 Malam di Gandaria City.
Sebagai rasa terima kasihku kepada Tya karena telah mendukungku untuk mengerjakan tahap paling angker, kuundang dia beserta keluarga kami untuk makan bersama di sebuah restoran. Malam ini akan menjadi malam yang sangat bersejarah. Sebuah cincin sengaja ku pesan langsung dari Inggris akan segera melekat di jari manis wanita itu. Aku tidak sabar, bagaimana reaksinya setelah melihat nilai sempurna seorang Pratama dan cincin ini.
"Please Have a Set, Mrs. Tya Amarum Pratama" Kataku setelah kita sampai di restoran. Keluarga kami duduk tepat di samping meja yang sudah ku atur sedemikian rupa dengan manajer restoran.
"Apa-apaan sih kamu, malu aku ada keluarga" Tya menggerutu, aku hanya bisa tersenyum bahagia.
"Ma, Pa, izinkan aku untuk menjadikan Tya mendapat gelar Pratama". Aku mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
"Cukup Pratama" Tya mengelak.
"Ada apa?" Sahutku. Keluarga kami bertanya-tanya.
"Sebelum aku jawab, aku akan berterima kasih kepadamu. Terima kasih atas segala yang telah kamu berikan selama ini, susah senang, gaji hasil kerja kerasmu selama 6 tahun di Tukang Fotocopy depan kampus, dan semuanya. Aku tahu, kamu memang bapak yang ideal. Aku siap lahir batin menjadi nyonya Pratama". Balas Tya, diikuti haru seisi restoran.
Kami pun akan segera menikah dalam waktu dekat ini.
---------------
Pukul 7 Pagi di halte SCBD Sudirman.
Aku duduk manis di halte sebuah pusat perkantoran di SCBD, Jakarta Selatan, dengan menggenggam secangkir teh di tangan kanan dan menggandeng tangan seorang anak kecil yang ku beri nama Nino Omarum Pratama di sebelah kiri. Dia tampak lucu sekarang. Anak ini baru berumur satu tahun dua bulan, masih sangat dini.
Aku menatap ke jalan raya, menunggu seseorang yang sejak lama dirindukan oleh Nino. 15 menit berlalu, namun tak ada tanda-tanda kedatangannya. Sampai akhirnya, seorang wanita memakai blouse berwarna krem dan rok putih menghampiri kami.
"Halo sayang, udah lama nunggunya?"
"Hai mam, iya aku bosan. Ayo kita ke toko mainan" Nino menyahut.
"Ayah mau ikut?" Kata Nino lagi.
"Tidak, nak. Ayah masih ada meeting dulu sama temang-teman ayah. Kamu have fun sama mama ya. Kita ketemu di Starbucks nanti sore. Love you honey" Kataku, lalu mereka pergi.
Aku kembali menatap jalan raya ini.
Sekarang, pukul 7 hanya menjadi cerita pahit. Semenjak lamaran itu dua tahun yang lalu, kehidupan kami berubah. Aku lebih tepatnya. Tya dipanggil oleh Tuhan dalam kecelakaan di sebuah jalan, Jakarta Selatan. Masih segar dalam ingatan ketika mobil kami ditabrak dari belakang oleh sebuah minibus, dan kepalaku mengalami pendarahan. Ku coba untuk menyelamatkan Tya, ternyata aku sudah dievakuasi pada sebuah halte kecil diantara gedung-gedung tinggi. Sebuah Ambulan memisahkan kami, kemudian kami berpisah selamanya. Dan sekarang, aku duduk di tempat yang seharusnya tidak aku ingat lagi.
Nino, buah cintaku, semata-mata bukan hasil dari perkawinanku dengan Tya, melainkan Rani, sahabat kuliah kami yang diwasiatkan Tya untuk menjadi penggantinya sehari sebelum ia meninggal.
Rani menghormatiku, seperti ia menghormati Nino Omarum Pratama, yang sebetulnya tidak ada nama lengkap wanita itu sama sekali. Cincin pernikahanku ini, adalah cincin yang pernah dipakai sebentar oleh nyonya Tya Amarum "Pratama", Alm. Aku bisa membayangkan senyuman perempuan yang telah 10 tahun kukejar, melihat sang suami sudah bahagia dengan dirinya, maksudku dengan wakil dirinya di dunia.
Ya, semua orang akan membenci sesuatu. Aku pun sekarang membenci angka 7.
To Be Continue.......
No comments:
Post a Comment